Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan terbaru mengenai perkembangan iklim di Indonesia. Data pemutakhiran kondisi iklim Dasarian II Juni 2026 menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada potensi fenomena El Nino, dengan prediksi mencapai intensitas kuat sebesar 98 persen, melonjak dari angka sebelumnya 62 persen. Bersamaan dengan itu, BMKG melaporkan bahwa lebih dari sepertiga wilayah Indonesia, tepatnya 37,6 persen atau 263 Zona Musim (ZOM), kini telah memasuki musim kemarau.
Perubahan signifikan pada prediksi El Nino ini disampaikan BMKG melalui akun Instagram resminya pada Selasa (23/6). Anomali Suhu Permukaan Laut (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +1,61 pada periode tersebut. Angka ini mengindikasikan kondisi laut yang hangat dan telah melampaui ambang batas netral selama tujuh dasarian berturut-turut. BMKG menekankan bahwa fluktuasi suhu laut di Samudra Pasifik (ENSO) dan Samudra Hindia (IOD) memiliki peran krusial dalam memengaruhi pola hujan, suhu udara, hingga potensi terjadinya cuaca ekstrem di seluruh wilayah Indonesia.
Sementara itu, Dipole Mode Indeks (IOD) saat ini tercatat berada pada fase netral dengan nilai -0,298. Meskipun IOD dalam kondisi netral, faktor El Nino yang menguat diperkirakan akan memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap kondisi cuaca di Indonesia dalam beberapa bulan mendatang.
Pemantauan BMKG terhadap 699 Zona Musim (ZOM) di seluruh Indonesia mengungkapkan bahwa 37,6 persen di antaranya, atau sebanyak 263 ZOM, telah beralih ke musim kemarau. Sebagian besar wilayah lainnya, sekitar 46,2 persen atau 323 ZOM, masih berada dalam periode musim hujan. Sisanya, 16,2 persen atau 113 ZOM, dikategorikan sebagai Tipe 1 Musim, yang biasanya mengindikasikan peralihan atau pola musim yang tidak sepenuhnya jelas.
Fenomena El Nino diperkirakan akan bertahan hingga awal tahun 2027. Kehadirannya berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau dan meningkatkan tingkat kekeringan di Indonesia. BMKG mengindikasikan bahwa dampak langsung fenomena ini terhadap cuaca di Indonesia akan terasa sepanjang musim kemarau hingga bulan Oktober 2026.
El Nino yang semakin kuat tidak hanya berdampak pada Indonesia, tetapi juga diprediksi akan memengaruhi pola cuaca secara global. Biro cuaca Australia telah mengeluarkan peringatan bahwa pola cuaca El Nino yang sudah terbentuk di Pasifik tropis dapat meningkat menjadi salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade pada paruh kedua tahun 2026.
Dampak global dari El Nino yang kuat ini diperkirakan akan membawa curah hujan berlebih di wilayah Amerika, sementara wilayah Asia berpotensi mengalami kondisi panas dan kering yang ekstrem. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini dapat semakin mengganggu sektor pertanian di berbagai belahan dunia, memicu kekhawatiran terhadap pasokan pangan global, terutama di wilayah dengan populasi padat. Para ilmuwan juga memprediksi bahwa perubahan iklim yang sedang berlangsung akan semakin memperkuat efek dari fenomena El Nino kali ini, menambah kompleksitas tantangan cuaca yang dihadapi dunia.
Kondisi ini menuntut kewaspadaan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor pertanian, dan masyarakat umum, untuk mengantisipasi dampak kekeringan dan potensi bencana hidrometeorologi lainnya yang mungkin timbul akibat perubahan pola cuaca ekstrem. BMKG terus melakukan pemantauan intensif terhadap perkembangan iklim dan akan terus memberikan informasi terkini kepada publik.











