Sulteng Diguncang 1.349 Gempa Susulan, Ribuan Rumah Rusak Berat Akibat Gempa M6,7

Wibowo

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat aktivitas seismik yang intens di Sulawesi Tengah (Sulteng) pascagempa utama bermagnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut. Hingga Selasa (23/6) pukul 24.00 waktu setempat, tercatat sebanyak 1.349 kali gempa susulan. Dari jumlah tersebut, 49 gempa dilaporkan dirasakan oleh masyarakat, dengan gempa terbesar mencapai magnitudo 5,3 yang terjadi satu kali. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa tren aktivitas gempa susulan menunjukkan penurunan yang signifikan.

Gempa yang berpusat di Sulteng ini dilaporkan menimbulkan dampak luas, terutama di Kabupaten Sigi. Berdasarkan data BNPB per hari ini, sebanyak 3.600 kepala keluarga atau 9.609 jiwa terdampak langsung oleh bencana ini. Seluruh korban yang mengalami luka telah mendapatkan penanganan medis yang memadai dan dilaporkan telah pulih serta kembali beraktivitas normal.

Kerusakan infrastruktur akibat guncangan gempa juga cukup parah. Data BNPB mencatat 1.979 rumah mengalami rusak ringan, 277 rumah rusak sedang, dan 277 rumah lainnya mengalami rusak berat. Selain itu, fasilitas umum keagamaan juga tidak luput dari dampak, dengan 110 rumah ibadah yang terdampak, terdiri dari 29 masjid dan 81 gereja. Sektor pendidikan dan pemerintahan juga terdampak, dengan 35 gedung sekolah, 19 gedung perkantoran termasuk kantor Bupati Sigi dan Bapperinda, serta 10 puskesmas. Kerusakan juga dilaporkan pada 2 rumah adat, dua jaringan air bersih, dan 6 fasilitas umum lainnya. Abdul Muhari menekankan bahwa data kerusakan ini masih bersifat sementara dan menunggu hasil verifikasi teknis struktur bangunan lebih lanjut.

Menghadapi situasi ini, Pemerintah Kabupaten Sigi menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, terhitung sejak 16 hingga 30 Juni 2026. BNPB bersama seluruh pemangku kepentingan berkomitmen untuk terus mendampingi pemerintah daerah dalam pelaksanaan masa tanggap darurat. Fokus utama saat ini adalah mempersiapkan tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi guna mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat yang terdampak gempa.

Situasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Torabelo Kabupaten Sigi juga menunjukkan ketangguhan dalam menghadapi bencana. Pascagempa, rumah sakit ini masih melakukan perawatan pasien di tenda darurat. Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Torabelo Sigi, dr. Marannu C. Sambo, menjelaskan bahwa langkah ini diambil untuk menjamin keselamatan seluruh pihak di tengah masih adanya aktivitas gempa susulan. Keputusan ini diambil setelah koordinasi antara manajemen rumah sakit dengan tim pemeliharaan sarana dan prasarana, yang menemukan adanya kerusakan pada dua gedung perawatan pasien.

Saat ini, pasien yang masih menjalani perawatan di tenda darurat mayoritas adalah pasien dengan penyakit umum, termasuk anak-anak dan lansia. Jumlahnya tidak lebih dari 20 orang pasien. Pihak RSUD Torabelo Sigi masih menunggu hasil pemeriksaan gedung lanjutan untuk menentukan kelayakan bangunan sebelum pasien dapat kembali dirawat di dalam gedung. Untuk pasien yang menjadi korban langsung gempa dengan kondisi patah tulang, mereka telah dirujuk ke RSUD Undata untuk mendapatkan pemantauan dari dokter spesialis ortopedi.

Sementara itu, pasien dengan luka ringan atau mengalami trauma akibat gempa hanya tersisa satu orang yang masih dalam proses pemulihan. dr. Marannu menegaskan bahwa pelayanan kesehatan di RSUD Torabelo Sigi tetap berjalan secara normal dengan pengawasan ketat dari tenaga medis dan manajemen rumah sakit. Sebagian pasien yang dirawat di tenda darurat meliputi 10 orang pasien di ruang perawatan bedah, baik korban gempa maupun pasien biasa yang memerlukan perawatan bedah lanjutan.

Data Satgas Tanggap Darurat Penanganan Bencana Gempa Bumi Sigi hingga Selasa (23/6) pukul 18.00 Wita, merinci bahwa gempa telah menyebabkan kerusakan pada sedikitnya 3.032 rumah warga. Rinciannya adalah 1.959 rumah rusak ringan, 796 rumah rusak sedang, dan 277 rumah rusak berat. Dari segi korban jiwa, tercatat 14 orang luka berat, 78 orang luka ringan, dan tiga warga dilaporkan meninggal dunia akibat gempa ini.

Kejadian gempa di Sulteng ini kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di wilayah yang rentan terhadap aktivitas seismik. Kolaborasi antara pemerintah, BNPB, BMKG, dan masyarakat menjadi kunci dalam mitigasi dan penanganan bencana agar dampak kerugian dapat diminimalisir. Upaya pemulihan pascabencana, termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi, akan menjadi tantangan tersendiri yang membutuhkan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All