Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan bahwa sektor perikanan nasional masih menunjukkan kinerja yang solid dan tangguh, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian meningkat. Ketahanan ini terbukti dari angka produksi perikanan yang terus mencatatkan volume besar setiap tahunnya, serta surplus perdagangan yang mengindikasikan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.
Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, memaparkan bahwa rata-rata produksi perikanan tangkap nasional mencapai 7,5 juta ton per tahun. Sementara itu, sektor perikanan budidaya mampu menyumbang sekitar 5,5 juta ton, dan produksi rumput laut nasional melesat hingga 10 juta ton. Angka-angka ini menjadi bukti nyata kekuatan industri kelautan dan perikanan Indonesia.
"Jadi ekspor kita rata-rata di US$ 6,5 miliar. Sementara impor kita tuh gak sampai US$ 1 miliar, kira-kira sekitar US$ 600 juta lah kurang lebih," ungkap Trenggono dalam acara Economic Update 2026 CNBC Indonesia yang mengusung tema ‘Capaian Kinerja dan Arah Penguatan Program Prioritas Kementerian’, Rabu (24/6/2026).
Kondisi surplus ekspor yang signifikan ini tidak hanya mencerminkan kekuatan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global, tetapi juga menjamin ketersediaan pasokan protein yang aman untuk kebutuhan domestik. Hal ini menjadi krusial mengingat protein hewani dari hasil laut dan perikanan merupakan salah satu sumber gizi utama bagi masyarakat Indonesia.
Dalam upaya terus memperkuat dan meningkatkan produktivitas sektor perikanan, KKP telah meluncurkan program inovatif berupa pengembangan budidaya tematik di setiap desa. Program ini dirancang untuk menjangkau 40.000 desa di seluruh Indonesia, dengan dukungan teknologi mutakhir seperti mini RAS (Resirkulasi Aquaculture System).
"Artinya setiap tahun itu kalau satu titik 30 ton. Itu kan kalau misalnya seribu desa saja gitu. Itu sudah berapa? Kalau 40.000 desa berapa itu? Itu kita butuh bibitnya aja sudah. Butuh bibitnya saja udah 15 miliar. Bibit kurang lebih setiap tahun," jelas Menteri Trenggono, menggambarkan potensi besar dari program ini dalam memenuhi kebutuhan bibit ikan yang terus meningkat.
Fleksibilitas menjadi kunci dalam implementasi program budidaya tematik ini. KKP memastikan bahwa jenis komoditas budidaya yang dikembangkan di setiap daerah akan disesuaikan dengan selera konsumsi masyarakat setempat dan potensi pasar. Di Pulau Jawa, misalnya, fokus utama diarahkan pada budidaya ikan lele dan nila yang memiliki permintaan tinggi. Sementara itu, di daerah lain, pengembangan komoditas seperti ikan mas dan gurame akan dioptimalkan.
"Nanti kita sesuaikan dengan kondisi demand nya sendiri seperti apa gitu dan sekaligus juga sebetulnya untuk kepentingan ekspor juga. Seperti kayak patin misalnya gitu kita bisa kembangkan," tutur Menteri Trenggono, menunjukkan strategi adaptif KKP dalam merespons kebutuhan pasar.
Menteri Trenggono menyatakan optimismenya terhadap permintaan produk perikanan yang akan tetap stabil, meskipun dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global. Ia berpendapat bahwa komoditas pangan, khususnya sumber protein, memiliki karakteristik yang relatif tahan terhadap perlambatan ekonomi. Hal ini dikarenakan pangan merupakan kebutuhan dasar yang selalu dibutuhkan masyarakat, terlepas dari kondisi ekonomi.
Tren positif ekspor perikanan Indonesia dalam lima tahun terakhir menjadi refleksi dari keyakinan tersebut, meskipun secara nilai dan volume masih perlu diakselerasi untuk bersaing dengan negara-negara eksportir besar seperti China dan Vietnam. KKP menyadari tantangan yang ada dan terus berupaya mengatasinya demi memperkuat posisi produk perikanan Indonesia di pasar global.
Beberapa tantangan utama yang menjadi fokus KKP meliputi upaya memastikan ketersediaan pasokan yang berkelanjutan, menjaga konsistensi kualitas produk, serta menjamin ketepatan waktu pengiriman. Untuk menjawab tantangan ini, pemerintah tengah mengembangkan proyek ambisius berupa tambak udang modern berskala besar di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT). Proyek ini bertujuan untuk mendongkrak produktivitas budidaya udang nasional melalui adopsi teknologi terkini dan standar budidaya yang unggul.
"Kita bikin dulu skala model yang bagus, yang modern, yang sesuai dengan standar budidaya yang benar. Lalu kemudian tahapan berikutnya tentu kita akan koreksi dan kita pilih tambak-tambak masyarakat," terang Menteri Trenggono, menjelaskan tahapan pengembangan tambak udang modern yang diharapkan menjadi contoh bagi para pembudidaya lainnya.
Lebih lanjut, kepatuhan terhadap standar keamanan pangan internasional menjadi faktor krusial yang sangat menentukan penerimaan produk perikanan Indonesia di pasar global. Kejadian kontaminasi Cesium-137 pada produk udang yang sempat menghambat ekspor ke Amerika Serikat menjadi pembelajaran berharga bagi seluruh pemangku kepentingan. Kejadian ini menegaskan pentingnya pengawasan mutu yang ketat dan sistem jaminan mutu yang andal.
Menyikapi hal tersebut, KKP berkomitmen penuh untuk terus memperkuat tata kelola produksi dan menjamin mutu produk perikanan. Hal ini dilakukan agar produk perikanan Indonesia dapat semakin dipercaya dan diterima luas oleh pasar global.
"Kita yakinkan kita jelaskan sampai kemudian USFDA (United States Food & Drug Administration) meyakini Kementerian Kelautan Perikanan yang ditunjuk sebagai satu-satunya lembaga yang bisa memberikan sertifikasi khususnya di sektor perikanan ya," tandas Menteri Trenggono, menunjukkan keseriusan KKP dalam memastikan standar kualitas dan keamanan produk perikanan Indonesia sesuai dengan regulasi internasional. Komitmen ini diharapkan dapat membuka peluang ekspor yang lebih luas dan meningkatkan nilai tambah bagi para pelaku usaha perikanan nasional.











