Perdana Menteri Kanada, Justin Trudeau, kini menghadapi ujian krusial pasca keputusannya untuk meninggalkan perundingan kesepakatan dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keputusan ini menempatkan Trudeau pada posisi yang menuntutnya untuk meyakinkan publik Kanada bahwa langkah beraninya tersebut akan sepadan dengan konsekuensi yang mungkin timbul.
Trudeau memutuskan untuk tidak melanjutkan negosiasi yang berpotensi menghasilkan kesepakatan baru dengan Amerika Serikat dan Meksiko mengenai perjanjian perdagangan NAFTA. Keputusan ini diambil setelah Trump memberikan tenggat waktu yang ketat, yaitu pada hari Jumat, 28 September 2018, untuk tercapainya kesepakatan.
Kepala negosiator Kanada, Chrystia Freeland, menyatakan bahwa negaranya tidak akan menandatangani perjanjian yang tidak menguntungkan bagi Kanada. “Kami akan terus bekerja untuk kepentingan rakyat Kanada,” tegas Freeland dalam sebuah pernyataan yang dirilis pada hari Jumat tersebut.
Langkah Trudeau ini merupakan sebuah pertaruhan besar. Ia harus dapat meyakinkan rakyat Kanada bahwa penolakannya terhadap kesepakatan di bawah tekanan Trump adalah langkah strategis yang akan mengamankan kepentingan ekonomi dan kedaulatan Kanada dalam jangka panjang. Kegagalan dalam meyakinkan publik dapat berimplikasi pada posisinya sebagai pemimpin.
Sebelumnya, Trump mengindikasikan bahwa Amerika Serikat telah mencapai kesepakatan dengan Meksiko mengenai beberapa aspek dari perjanjian perdagangan NAFTA yang telah direvisi. Ia bahkan menyebut kesepakatan ini sebagai “perjanjian yang sangat baik” dan mengancam akan mengakhiri NAFTA jika Kanada tidak bergabung.
Perundingan ini telah berlangsung selama berbulan-bulan dengan intensitas tinggi. Ketegangan antara kedua negara semakin memuncak, terutama setelah Trump memberlakukan tarif pada baja dan aluminium Kanada. Namun, Kanada merespons dengan mengenakan tarif balasan pada berbagai produk Amerika Serikat.
Keputusan Trudeau untuk mundur dari meja perundingan pada tenggat waktu yang ditentukan menunjukkan posisinya yang teguh dalam mempertahankan kepentingan nasional. Kini, dunia menunggu bagaimana Perdana Menteri Kanada ini akan mengelola dampak dari keputusannya dan membuktikan bahwa langkah tersebut adalah sebuah strategi yang matang, bukan sekadar reaksi emosional terhadap tekanan dari Gedung Putih.
