Generasi yang lahir dan tumbuh di tengah gelembung ekonomi Jepang yang pecah pada awal 1990-an, kini menghadapi kenyataan pahit di masa pensiun. Dikenal sebagai generasi “zaman es”, pengalaman mereka menjadi cerminan luka mendalam dari krisis ekonomi yang dampaknya terasa hingga puluhan tahun kemudian.
Sejak gelembung ekonomi Jepang pecah, negara tersebut terperosok dalam periode stagnasi ekonomi yang panjang, yang sering disebut sebagai “Dekade Hilang”. Generasi ini tumbuh dengan melihat orang tua mereka kehilangan pekerjaan dan tabungan, serta menyaksikan perusahaan-perusahaan besar mengalami kesulitan. Akibatnya, mereka cenderung berhati-hati dalam pengeluaran dan investasi, sebuah kebiasaan yang terbentuk di masa sulit.
Kondisi ekonomi yang tidak menentu ini memaksa banyak dari mereka untuk bekerja lebih keras dan lebih lama. Data menunjukkan bahwa bahkan di usia senja, banyak dari mereka masih harus bekerja untuk menopang kehidupan. Sebuah survei yang dilakukan oleh Asahi Shimbun pada tahun 2021 menemukan bahwa 55% responden berusia 60-an dan 40% responden berusia 70-an masih bekerja. Angka ini menunjukkan betapa rentannya kondisi finansial mereka.
Profesor Keio University, Hiroshi Yoshikawa, seorang ekonom terkemuka, pernah mengemukakan bahwa “luka dari krisis ekonomi bisa bertahan jauh lebih lama daripada krisis itu sendiri.” Pernyataannya ini sangat relevan dengan kondisi generasi “zaman es” di Jepang. Pengalaman hidup di bawah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi telah membentuk pandangan hidup dan strategi keuangan mereka.
Mereka yang memasuki dunia kerja di era pasca-gelembung seringkali hanya mendapatkan pekerjaan paruh waktu atau kontrak, yang menawarkan stabilitas dan tunjangan yang jauh lebih sedikit dibandingkan pekerjaan permanen di masa kejayaan ekonomi. Hal ini berdampak langsung pada akumulasi tabungan pensiun mereka yang terbatas. Akibatnya, banyak yang terpaksa menunda atau bahkan membatalkan rencana pensiun mereka.
Lebih lanjut, penurunan angka kelahiran dan populasi menua di Jepang menambah kompleksitas masalah ini. Beban pensiun dan jaminan sosial semakin berat bagi angkatan kerja yang semakin menipis. Generasi “zaman es” tidak hanya berjuang untuk masa depan mereka sendiri, tetapi juga menjadi saksi bisu dari tantangan demografis yang dihadapi Jepang.
Kisah generasi “zaman es” Jepang menjadi pengingat penting tentang dampak jangka panjang kebijakan ekonomi dan stabilitas pasar. Pengalaman mereka menyoroti perlunya strategi yang kokoh untuk mendukung pekerja dan pensiunan di tengah perubahan kondisi ekonomi global.
