Sejumlah perangkat wearable terbaru kini menawarkan kemampuan untuk mengukur kehilangan cairan dan sodium melalui keringat. Integrasi antara aplikasi latihan TrainingPeaks dan sensor keringat hDrop menjadi salah satu contohnya. Sensor ini memungkinkan data kehilangan keringat dan sodium tercatat bersamaan dengan metrik latihan lain seperti detak jantung dan kecepatan.
HDrop, yang dibanderol seharga $249.99, bukan satu-satunya pemain di pasar ini. Kompetitor seperti Nix ($189) dan FlowBio ($340) juga menawarkan solusi serupa. Bagi yang mencari opsi lebih terjangkau, Gatorade menyediakan tes keringat sekali pakai seharga sekitar $25. Tujuan utama semua alat ini adalah memberikan informasi akurat mengenai jumlah cairan dan sodium yang hilang saat berolahraga.
Bagi para atlet, terutama pelari maraton, daya tarik alat ini cukup kuat. Tes keringat di laboratorium memang terbukti dapat memberikan rekomendasi penggantian cairan dan elektrolit yang dipersonalisasi untuk atlet serius. Perangkat konsumen ini mencoba menawarkan janji serupa, namun tanpa setting laboratorium yang terkontrol.
Sayangnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa mencapai akurasi setingkat laboratorium di lapangan sangatlah sulit. Kebanyakan perangkat sensor keringat belum diuji secara ketat dalam kondisi latihan yang sebenarnya, yang seringkali melibatkan panas tinggi dan kelembaban. Data akurasi yang tersedia pun lebih banyak berasal dari studi laboratorium terkontrol, bukan studi lapangan berskala besar.
Sebuah studi tahun 2026 yang menguji komposisi sodium keringat dan estimasi kehilangan keringat melalui sensor wearable menyimpulkan bahwa pengukuran dari perangkat konsumen ini “sebaiknya diinterpretasikan dengan hati-hati dan tidak dianggap setara dengan analisis tingkat laboratorium.”
Tantangan utama bagi tes keringat konsumen adalah sifat keringat yang dinamis. Konsentrasi sodium keringat dapat berubah setiap hari dipengaruhi oleh aklimatisasi panas, tingkat kebugaran, dan pola makan. Selain itu, sensor hanya mengambil sampel dari satu area kulit. Area lengan yang menjadi lokasi sensor tidak dapat merepresentasikan seluruh tubuh, karena punggung, kepala, atau dada bisa saja berkeringat secara berbeda.
Ekstrapolasi data dari satu area kulit untuk menghitung kehilangan keringat atau sodium seluruh tubuh berpotensi besar menimbulkan kesalahan. Bahkan hDrop, Nix, dan FlowBio, yang mengklaim sebagai sensor keringat paling akurat, mencantumkan dalam panduan pemecahan masalah mereka bahwa kontak kulit yang buruk dapat menghasilkan pembacaan yang tidak akurat. Gangguan dari air atau cairan lain selain keringat juga dapat memengaruhi hasil.
Pada akhirnya, perangkat ini sensitif terhadap kelembaban, suhu, dan posisi pemasangan. Faktor-faktor ini justru seringkali muncul selama sesi latihan yang paling membutuhkan pengukuran keringat.
Meskipun demikian, bukan berarti tes keringat tidak ada gunanya sama sekali. Jika ada kesempatan untuk melakukan tes di laboratorium, itu bisa sangat berharga. Namun, untuk penggunaan sehari-hari, melacak hidrasi secara mandiri dan gratis bisa lebih bermanfaat. Mencatat pola hidrasi dapat membantu mengidentifikasi kapan seseorang cenderung lebih banyak berkeringat dalam kondisi lembab, atau kapan kehilangan sodium meningkat saat latihan panjang.
Namun, lompatan dari data sensor yang menyatakan “saya kehilangan 900mg sodium” untuk dijadikan sebagai angka tindakan presisi, seperti halnya detak jantung atau kecepatan, belum didukung oleh akurasi teknologi sensor keringat konsumen saat ini. Perangkat ini belum bisa menggantikan tes keringat laboratorium yang sesungguhnya. Bagi yang penasaran, silakan mencoba. Namun, penulis artikel ini lebih memilih menghemat biaya untuk pengujian dan menggunakannya untuk kebutuhan hidrasi dan nutrisi itu sendiri.
