Terbongkar! Alasan Nyamuk ‘Terbang’ ke Golongan Darah O, Ini Penjelasan Ilmiahnya

Emanuel

Jakarta, CNBC Indonesia – Mitos yang beredar luas di masyarakat mengenai nyamuk yang lebih menyukai menghisap darah golongan darah O akhirnya mendapat penjelasan ilmiah. Ahli dari Institut Pertanian Bogor (IPB) membeberkan temuan penelitian yang mengungkap alasan di balik fenomena ini, sekaligus meluruskan kesalahpahaman yang mungkin timbul.

Profesor Upik Kesumawati, seorang Guru Besar di Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (SKHB) IPB, memaparkan hasil penelitian yang dilakukan di Jepang pada tahun 2004. Penelitian tersebut menemukan adanya perbedaan signifikan dalam senyawa volatil yang dikeluarkan oleh individu berdasarkan golongan darah mereka. Orang dengan golongan darah O cenderung mengeluarkan lebih banyak senyawa volatil dibandingkan dengan mereka yang bergolongan darah A.

Senyawa volatil ini, seperti asam laktat dan karbon dioksida (CO2), berperan penting dalam menarik perhatian nyamuk. Konsentrasi yang lebih tinggi dari zat-zat ini pada individu bergolongan darah O membuat mereka lebih mudah terdeteksi oleh nyamuk, seolah-olah menjadi magnet bagi serangga pengisap darah tersebut. Namun, Prof Upik menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti golongan darah lain aman dari gigitan nyamuk.

"Siapa pun bisa dihisap darahnya, hanya saja ada kecenderungan golongan darah O lebih disukai," ujar Prof Upik, seperti dikutip dari laman resmi IPB. Pernyataan ini menekankan bahwa potensi digigit nyamuk tetap ada pada semua orang, terlepas dari golongan darah mereka. Faktor lain turut berperan dalam menentukan siapa yang menjadi sasaran empuk nyamuk.

Menariknya, tidak semua nyamuk memiliki kebutuhan yang sama terhadap darah manusia. Prof Upik menjelaskan bahwa hanya nyamuk betina yang membutuhkan darah untuk proses reproduksi dan pematangan telurnya. Darah bukanlah sumber energi utama bagi nyamuk. Nyamuk jantan, misalnya, mendapatkan energi mereka dari cairan tanaman dan nektar bunga.

"Darah yang dihisap nyamuk dibutuhkan untuk reproduksi, bukan sebagai makanan utama," tegasnya. Pemahaman ini penting untuk diketahui agar masyarakat tidak salah kaprah mengenai siklus hidup dan kebutuhan nyamuk.

Selain golongan darah, faktor lingkungan dan pilihan personal juga memengaruhi ketertarikan nyamuk. Prof Upik menyoroti peran warna pakaian yang dikenakan seseorang. Pakaian berwarna gelap cenderung menyerap panas lebih banyak, sehingga membuat suhu tubuh pemakainya meningkat. Kondisi tubuh yang lebih hangat ini menjadi lebih menarik bagi nyamuk yang menyukai lingkungan yang hangat dan lembap.

"Nyamuk menyukai kondisi hangat dan lembap. Karena itu orang yang menggunakan pakaian gelap lebih sering didatangi nyamuk," ungkapnya. Oleh karena itu, memilih pakaian berwarna cerah saat beraktivitas di luar ruangan, terutama di area yang banyak nyamuk, bisa menjadi salah satu strategi pencegahan.

Lebih lanjut, Prof Upik juga meluruskan mitos yang sering beredar mengenai penularan HIV/AIDS oleh nyamuk. Ia membantah anggapan bahwa nyamuk dapat menularkan virus HIV. Meskipun nyamuk mungkin sempat mengisap darah penderita HIV, virus tersebut tidak dapat berkembang biak di dalam tubuh serangga itu. Virus HIV akan mati dalam waktu singkat dan tidak dapat ditularkan kembali ke manusia melalui gigitan nyamuk.

Untuk mengantisipasi ancaman gigitan nyamuk dan penyakit yang mungkin ditularkannya, Prof Upik menganjurkan penerapan program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan metode 3M Plus. Tiga langkah utama meliputi menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang atau membuang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk.

Selain itu, langkah "Plus" mencakup penggunaan losion antinyamuk, mengenakan pakaian yang menutupi sebagian besar tubuh, serta menggunakan kelambu saat tidur, terutama di daerah yang rawan. Upaya pencegahan yang komprehensif ini diharapkan dapat meminimalkan risiko gigitan nyamuk dan mencegah penularan penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) yang sering menjadi ancaman di berbagai wilayah di Indonesia.

Penting bagi masyarakat untuk terus waspada terhadap keberadaan nyamuk, terutama di musim-musim tertentu yang mendukung perkembangbiakannya. Memahami faktor-faktor yang menarik nyamuk, seperti golongan darah dan pilihan pakaian, dapat membantu individu mengambil langkah pencegahan yang lebih efektif. Dengan edukasi yang tepat dan tindakan preventif yang konsisten, masyarakat dapat mengurangi potensi gangguan dan ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh nyamuk.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All