Di tengah musim kemarau yang seharusnya mengurangi populasi nyamuk, masyarakat justru mengeluhkan peningkatan jumlah nyamuk, khususnya Aedes aegypti. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mengapa nyamuk malah semakin banyak di saat kondisi kering.
Sebuah riset mengungkap alasan ilmiah di balik fenomena yang meresahkan ini. Telur nyamuk Aedes aegypti memiliki daya tahan luar biasa terhadap kekeringan. Kemampuan ini memungkinkan telur untuk bertahan hidup dalam kondisi kering selama berbulan-bulan, bahkan hingga satu tahun.
Ketika musim kemarau tiba, banyak genangan air yang mengering, termasuk tempat-tempat yang sebelumnya menjadi sarang nyamuk. Namun, telur Aedes aegypti yang telah diletakkan di tempat-tempat tersebut tidak mati. Mereka memasuki fase dormansi, menunggu kondisi yang tepat untuk menetas.
Kondisi yang ditunggu oleh telur nyamuk adalah hadirnya kembali air. Begitu hujan mulai turun atau ada sumber air lain yang muncul kembali setelah periode kemarau, telur-telur tersebut akan segera menetas. Hal ini menyebabkan lonjakan populasi nyamuk yang drastis secara tiba-tiba, menciptakan kesan bahwa nyamuk semakin banyak justru saat kemarau.
Lebih lanjut, riset yang dilakukan oleh Pusat Riset Zoologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) pada tahun 2022 mengonfirmasi temuan ini. Peneliti dari BRIN, Dr.rer.nat. Wisnu Broto, menjelaskan bahwa telur Aedes aegypti dapat bertahan hidup dalam keadaan kering selama periode yang panjang. “Telur Aedes aegypti bisa bertahan kering berbulan-bulan,” ujar Dr. Wisnu Broto dalam sebuah pernyataan.
Kemampuan bertahan hidup telur Aedes aegypti dalam kondisi kering ini menjadi faktor krusial dalam siklus hidupnya. Hal ini juga yang menyebabkan nyamuk tersebut tetap dapat berkembang biak secara efektif meskipun dihadapkan pada musim kemarau yang panjang. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti perlu terus ditingkatkan, terutama menjelang dan setelah musim kemarau, ketika potensi telur yang tersimpan untuk menetas menjadi sangat tinggi.
