Jakarta, CNN Indonesia – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kembali mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi hujan lebat yang masih membayangi sejumlah wilayah di Indonesia pada Selasa, 23 Juni 2020. Kondisi ini cukup mengejutkan mengingat sebagian besar wilayah Nusantara telah memasuki musim kemarau.
Hujan yang turun di tengah musim kering ini dipicu oleh beberapa fenomena atmosfer yang terdeteksi oleh BMKG. Salah satu faktor utamanya adalah keberadaan Siklon Tropis Mekkhala. Sistem cuaca ini, yang terpantau berkembang dari Bibit Siklon Tropis 92W, saat ini berada di sebelah timur laut Filipina.
Meskipun kecepatan angin maksimum Siklon Tropis Mekkhala diprediksi mengalami penurunan dalam 24 jam ke depan, intensitasnya masih berada pada kategori empat. Siklon ini bergerak menuju arah barat laut. BMKG menjelaskan, walau Siklon Tropis Mekkhala bergerak menjauhi Indonesia dalam beberapa hari mendatang, potensi hujan di tanah air belum sepenuhnya hilang.
Analisis BMKG lebih lanjut menunjukkan bahwa pada Dasarian III Juni 2020, curah hujan di Indonesia secara umum diprakirakan berada pada kategori menengah, mencapai 62,55 persen, dan kategori rendah sebesar 37,39 persen. Peluang terjadinya hujan dengan kategori tinggi hingga sangat tinggi relatif terbatas. Wilayah yang diprediksi mengalami curah hujan rendah meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Lampung. Sebagian wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua bagian selatan juga diperkirakan kering.
Sementara itu, hujan dengan kategori menengah masih banyak dijumpai di Sumatra bagian tengah hingga utara, Kalimantan bagian barat hingga utara, serta sebagian Sulawesi, Maluku, dan Papua. Situasi ini mengindikasikan bahwa periode kemarau memang semakin meluas di sebagian besar wilayah Indonesia. Namun, keberadaan fenomena lain tetap berpotensi menimbulkan hujan.
Dalam sepekan ke depan, BMKG memprediksi pergerakan Gelombang Kelvin yang membentang dari wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi Utara, Maluku Utara, hingga pesisir Papua Barat Daya berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan konvektif. Fenomena ini dapat memicu pembentukan awan hujan di sebagian wilayah tersebut.
Kondisi ini diperkuat oleh pola siklonik yang terdeteksi di Samudra Hindia sebelah barat Sumatra dan di Selat Makassar. Keberadaan pola siklonik ini berpotensi membentuk area perlambatan dan pertemuan angin, yang merupakan salah satu unsur penting dalam pembentukan hujan. Selain itu, labilitas atmosfer yang masih cukup kuat juga terpantau di beberapa daerah, seperti Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.
"Hal ini membuat peluang hujan tetap perlu diwaspadai meskipun sebagian wilayah Indonesia telah memasuki periode musim kemarau," tegas BMKG.
Adapun daftar 18 wilayah yang berpotensi diguyur hujan pada Selasa, 23 Juni 2020, meliputi:
Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Kepulauan Riau, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua, Papua Tengah, dan Papua.
Khusus untuk wilayah Jawa Barat, BMKG mengeluarkan peringatan untuk potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Fenomena hujan di tengah musim kemarau ini menunjukkan kompleksitas cuaca di Indonesia yang dipengaruhi oleh berbagai faktor global dan lokal. Keberadaan siklon tropis, gelombang atmosfer, serta pola tekanan udara yang unik dapat menciptakan kondisi meteorologis yang tidak biasa. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap potensi cuaca ekstrem tetap perlu ditingkatkan, terlepas dari status musim di suatu wilayah. Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi cuaca terkini dari BMKG demi keselamatan dan kelancaran aktivitas sehari-hari.











