Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim dirinya memiliki akses komunikasi yang tidak langsung atau rahasia dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Klaim ini diungkapkannya dalam sebuah wawancara, dengan tujuan untuk memfasilitasi negosiasi yang lebih lancar antara kedua negara.
Menurut Trump, keberadaan jalur komunikasi ini sangat penting untuk kelancaran proses diplomatik. Ia menyebutkan bahwa dirinya telah berbicara dengan beberapa orang yang memiliki koneksi langsung ke IRGC. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara bersama Fox News pada Minggu, 10 September 2023.
Trump menjelaskan, “Saya punya kontak. Saya memiliki cara untuk berbicara dengan mereka.” Ia menambahkan bahwa ia tidak perlu berbicara langsung dengan IRGC, namun ia mengetahui orang-orang yang bisa menjembatani komunikasi tersebut. “Saya tahu orang-orang yang berbicara dengan mereka,” ujarnya.
Pengakuan ini muncul di tengah ketegangan yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran, serta sanksi yang masih berlaku terhadap negara Timur Tengah tersebut. Trump sebelumnya dikenal dengan kebijakan “tekanan maksimum” terhadap Iran selama masa kepresidenannya, yang mencakup penarikan AS dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada Mei 2018.
Meskipun demikian, Trump mengindikasikan bahwa pendekatan yang lebih lunak atau jalur komunikasi yang tidak langsung ini bisa menjadi kunci untuk mencapai kesepakatan. Ia berpendapat bahwa dengan adanya saluran komunikasi ini, negosiasi dapat berjalan lebih efektif. “Saya pikir itu penting. Sangat penting,” tegas Trump.
IRGC sendiri merupakan sebuah badan militer yang kuat di Iran, yang memainkan peran signifikan dalam keamanan nasional dan kebijakan luar negeri negara tersebut. Badan ini juga telah masuk dalam daftar organisasi teroris oleh Amerika Serikat pada tahun 2019, yang semakin memperumit hubungan diplomatik kedua negara.
Klaim Trump mengenai adanya jalur komunikasi rahasia ini menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang bagaimana ia berencana untuk menavigasi hubungan AS-Iran jika terpilih kembali menjadi presiden. Pernyataannya menyiratkan adanya strategi diplomatik yang berbeda dari kebijakan sebelumnya, yang mungkin lebih mengandalkan dialog tidak langsung untuk meredakan ketegangan dan mencapai tujuan politik.
