Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berada di Selat Sunda menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang meningkat pada Senin, 17 Agustus 2026. Sepanjang hari, gunung api yang terkenal ini tercatat mengalami erupsi sebanyak 19 kali. Peristiwa ini menjadi perhatian mengingat tanggal tersebut bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
Meskipun jumlah erupsi mencapai 19 kali, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui Pos Pengamatan GAK di Desa Hargomulyo, Kecamatan Lampung Selatan, menyatakan bahwa aktivitas tersebut masih dalam kategori normal. Kepala Pos Pengamatan GAK, Andi, menjelaskan bahwa erupsi yang terjadi memiliki karakteristik rendah.
“Erupsi yang terjadi masih dalam kategori rendah dan tidak disertai dengan ledakan besar maupun lontaran material pijar yang signifikan,” ujar Andi. Ia menambahkan bahwa kolom erupsi yang teramati tidak terlalu tinggi, berkisar antara 100 hingga 500 meter di atas puncak kawah. Hal ini menunjukkan bahwa energi yang dilepaskan saat erupsi masih relatif terbatas.
PVMBG terus memantau secara intensif aktivitas Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan data pengamatan hingga pukul 18.00 WIB pada hari yang sama, terekam 19 kali erupsi. Durasi erupsi bervariasi, mulai dari 25 detik hingga 1 menit 22 detik. Suara gemuruh yang terdengar dari pos pengamatan juga dilaporkan lemah.
Status aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini masih berada pada Level II atau Waspada. PVMBG mengimbau masyarakat, termasuk para nelayan dan wisatawan, untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif. Pengarahan ini penting demi keselamatan publik mengingat potensi bahaya yang masih ada, meskipun aktivitas saat ini tergolong rendah.
