Kevin Lamour, Chief Operating Officer (COO) FIFA, diberhentikan dari jabatannya menyusul kritik tajamnya terhadap rencana Presiden Gianni Infantino untuk menjual sebagian hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta. Keputusan ini menandai perkembangan signifikan di pucuk pimpinan badan sepak bola dunia yang tengah menghadapi berbagai masalah.
Lamour, yang baru bergabung dengan FIFA kurang dari dua tahun lalu dari UEFA, secara terbuka menentang skema yang disebut FFE (FIFA Future Events) setelah rencana tersebut terungkap. Ia menyatakan bahwa administrasi FIFA telah “dibohongi” dan bahwa Presiden “percaya bahwa dirinya mewakili FIFA padahal seharusnya melayani FIFA”.
Sebelum pemecatannya, Lamour telah menyadari risiko kehilangan jabatannya akibat perbedaan pandangan dengan Presiden Infantino. Pernyataan kritisnya tidak hanya menyasar pada rencana bisnis yang dinilai kontroversial, tetapi juga pada gaya kepemimpinan Infantino yang dianggap terlalu personal.
Rencana penjualan hak Piala Dunia kepada investor swasta ini sendiri telah menuai kontroversi sejak awal. Para kritikus berpendapat bahwa langkah tersebut berpotensi mengkomersialkan turnamen secara berlebihan dan mengurangi kontrol FIFA atas aset-aset pentingnya. Pemecatan Lamour semakin memperdalam perdebatan mengenai arah kebijakan FIFA di bawah kepemimpinan Infantino.
Lamour bergabung dengan FIFA pada awal tahun 2023, membawa pengalaman dari perannya di UEFA. Kepergiannya dari badan pengatur sepak bola dunia menimbulkan pertanyaan lebih lanjut tentang stabilitas internal dan keselarasan visi di organisasi tersebut.
