Pemikiran Soekarno, atau Bung Karno, kembali relevan dibahas terkait konsep Politik Luar Negeri (Polugri) Bebas-Aktif. Inti dari gagasan ini adalah penekanan pada kedaulatan bangsa dan semangat solidaritas antarnegara, khususnya di kawasan Asia-Afrika. Polugri Bebas-Aktif Bung Karno lahir sebagai respons tegas terhadap dominasi kolonialisme dan imperialisme yang melanda dunia.
Dalam artikel ini, penulis menyoroti bagaimana prinsip kedaulatan menjadi pilar utama dalam strategi Polugri Bung Karno. Ia berargumen bahwa kemerdekaan sebuah bangsa harus dipertahankan tidak hanya dari ancaman fisik, tetapi juga dari intervensi politik dan ekonomi asing. Kedaulatan ini bukan sekadar klaim, melainkan sebuah kondisi yang harus diperjuangkan secara aktif di kancah internasional.
Lebih lanjut, solidaritas Asia-Afrika menjadi elemen krusial lainnya dalam pemikiran Bung Karno. Ia melihat adanya potensi besar dalam persatuan negara-negara yang baru merdeka untuk bersama-sama melawan sisa-sisa kolonialisme dan membangun tatanan dunia yang lebih adil. Semangat ini kemudian termanifestasi dalam berbagai forum internasional, termasuk Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang bersejarah.
Penulis mengutip gagasan Bung Karno yang menekankan pentingnya negara-negara Asia-Afrika untuk tidak terseret dalam persaingan blok-blok kekuatan besar pasca-Perang Dunia II. Melalui Polugri Bebas-Aktif, Indonesia di bawah kepemimpinan Bung Karno berusaha memosisikan diri sebagai kekuatan penengah yang independen. “Kita tidak mau menjadi kuli negara lain,” demikian kutipan yang mencerminkan semangat kemandirian dalam diplomasi Indonesia.
Perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme adalah benang merah yang menghubungkan seluruh aspek Polugri Bebas-Aktif Bung Karno. Ia melihat bahwa perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa di Asia dan Afrika adalah perjuangan kolektif yang memiliki tujuan sama: terbebas dari penindasan dan membangun masa depan yang lebih baik. Gagasan ini terus bergema dan menjadi inspirasi bagi diplomasi Indonesia hingga kini.
