Sunday, 16 August 2026
BREAKING
BERITA

Studi Ungkap Kaitan Mengejutkan Antara Preferensi Makanan dan Sifat Psikopat

Oleh Emanuel August 16, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Penelitian terbaru membongkar kemungkinan adanya korelasi antara pilihan makanan seseorang dengan ciri-ciri kepribadian tertentu, termasuk indikasi psikopati. Studi ini mengeksplorasi bagaimana preferensi kuliner dapat menjadi petunjuk tak terduga mengenai karakter individu.

Temuan awal dari penelitian ini menunjukkan bahwa individu dengan kecenderungan psikopat mungkin lebih menyukai makanan yang memiliki rasa pahit. Makanan seperti kopi hitam tanpa gula, timun pahit, atau bahkan minuman tonic water yang cenderung memiliki rasa khas pahit, sering kali menjadi pilihan bagi mereka.

Dr. Christina Sagioglou, seorang psikolog dari University of Innsbruck, Austria, memimpin penelitian yang melibatkan 1.000 partisipan. Hasil riset yang dipublikasikan dalam jurnal ‘Appetite’ pada bulan September 2017 ini, menunjukkan adanya hubungan signifikan antara preferensi rasa pahit dengan sifat-sifat gelap kepribadian (dark triad personality traits), yang meliputi narsisme, machiavellianisme, dan psikopati.

Dalam studi tersebut, partisipan diminta untuk menilai sejauh mana mereka menyukai empat rasa dasar: manis, asin, asam, dan pahit. Mereka juga menjawab kuesioner yang mengukur ciri-ciri gelap kepribadian mereka. Analisis data kemudian dilakukan untuk mencari korelasi antara kedua aspek tersebut.

Hasilnya cukup mencengangkan. Ditemukan bahwa semakin tinggi skor seseorang dalam skala psikopati, semakin besar kemungkinan mereka menyukai rasa pahit. Hal ini berbeda dengan rasa manis, yang cenderung disukai oleh mayoritas orang tanpa kaitan khusus dengan ciri kepribadian tertentu.

Lebih lanjut, penelitian ini juga mengaitkan preferensi rasa pahit dengan kecenderungan perilaku seperti manipulatif dan sadisme. Sagioglou menjelaskan, “Preferensi rasa pahit secara umum berkorelasi dengan ciri-ciri gelap kepribadian, termasuk narsisme, machiavellianisme, dan psikopati.” Ia menambahkan bahwa studi ini memberikan pandangan menarik mengenai bagaimana preferensi rasa dapat mencerminkan aspek psikologis seseorang.

Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa temuan ini bersifat indikatif dan tidak dapat dijadikan diagnosis tunggal. Preferensi makanan hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor yang bisa dieksplorasi dalam memahami kepribadian seseorang. Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memperdalam pemahaman mengenai hubungan kompleks antara pola makan dan psikologi manusia.

Bagikan: Facebook X WhatsApp