Di tengah hiruk pikuk kota New Delhi, di kawasan Mustafabad, terhampar realitas suram yang seringkali luput dari perhatian: para pekerja limbah elektronik (e-waste) berjuang hidup di tengah kondisi kerja yang membahayakan. Mereka membongkar tumpukan gawai usang, mulai dari ponsel, televisi, hingga laptop, dalam ruangan sempit yang dipenuhi asap beracun dan serpihan logam tajam. Bagi Mateen Malik, seorang pemuda berusia awal 20-an, setiap hari adalah pertempuran melawan luka kecil yang berpotensi menjadi infeksi serius. Dengan tangan kosong, ia memisahkan kabel tembaga dari perangkat elektronik rusak, sementara aroma plastik terbakar menusuk hidung dan melapisi dinding bengkel yang menghitam.
Malik adalah satu dari sekian banyak pekerja informal di sektor daur ulang e-waste India. Tanpa perlengkapan pelindung dasar seperti sarung tangan atau masker, ia terpaksa mengandalkan blow torch untuk mempercepat proses pembongkaran komponen yang membandel. Metode ini, meski efektif, justru melepaskan zat kimia berbahaya ke udara yang dihirupnya setiap hari. "Kadang proses ekstraksinya sulit, dan saya tidak punya perlengkapan pelindung – tidak ada sarung tangan, tidak ada masker. Sering kali tangan saya juga terbakar. Ini rutinitas dalam pekerjaan kami. Residu kimia juga ada," ungkap Malik kepada Al Jazeera, seraya menambahkan bahwa pekerjaan ini adalah satu-satunya sumber penghidupannya.
Situasi serupa juga dialami Muhammad Faizan, seorang pekerja migran dari Uttar Pradesh. Di bengkel yang sama padatnya, ia membakar kabel berinsulasi demi mengekstraksi tembaga. Asap hitam pekat membubung dari lantai, menempel di langit-langit rendah, sementara Faizan menghabiskan jam kerjanya dari pukul sembilan pagi hingga delapan malam di tempat yang sama. "Ini pekerjaan berbahaya. Saya duduk di tempat yang sama setiap hari. Saat membongkar elektronik, saya sering terluka di tangan. Saat membakar plastik untuk mengambil logam, saya menghirup asap," tuturnya. Upahnya bergantung pada jumlah logam yang berhasil ia kumpulkan, sebuah sistem yang membuatnya semakin tertekan ketika hasil kerja tidak maksimal.
Kondisi mengerikan ini diperparah oleh volume limbah elektronik yang terus melonjak di India. Negara ini kini menduduki peringkat ketiga sebagai penghasil e-waste terbesar di dunia, menyusul China dan Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan peningkatan volume daur ulang limbah elektronik mencapai hampir 23 persen setiap tahunnya. Menteri Negara untuk Lingkungan Hidup, Hutan, dan Perubahan Iklim India, Kirti Vardhan Singh, menyatakan di parlemen bahwa India diproyeksikan menghasilkan lebih dari 1,4 juta metrik ton limbah elektronik pada tahun 2025-2026. Dari jumlah tersebut, sekitar 979.000 metrik ton diperkirakan akan didaur ulang.
Dewan Pengendalian Pencemaran Pusat India melaporkan bahwa New Delhi sendiri menyumbang hampir 10 persen dari total limbah elektronik nasional, dengan angka mencapai sekitar 230.000 metrik ton per tahun. Beban penanganan sampah elektronik ini tidak terdistribusi merata, melainkan menumpuk di kantong-kantong informal seperti Mustafabad. Di balik layar, terbentang jaringan kompleks yang melibatkan pedagang rongsokan, bengkel reparasi, hingga para pembongkar rumahan. Mayoritas dari mereka bekerja tanpa pemahaman memadai mengenai bahaya racun yang terkandung dalam perangkat elektronik usang, secara harfiah membongkar bukan hanya gawai, tetapi juga pertahanan terakhir tubuh mereka sendiri.
Salah satu karakteristik paling mencolok dari ekonomi e-waste informal di India adalah menyatunya fungsi rumah dan tempat kerja. Bharati Chaturvedi, pendiri dan direktur Chintan, sebuah kelompok riset dan aksi lingkungan, menjelaskan bahwa seringkali pekerja tinggal di lantai atas, sementara aktivitas pembongkaran dilakukan di lantai dasar atau bahkan di atap. "Sangat sering, seorang pekerja tinggal di lantai atas, sementara pembongkaran dilakukan di lantai dasar atau di atap," ujarnya. Paparan langsung terhadap debu timbal dan racun lainnya, serta risiko kebakaran dari bahan-bahan tersebut, menjadi ancaman konstan. Penggunaan blow torch semakin memperparah pelepasan zat beracun ke udara.
Dampak buruk ini tidak hanya dirasakan oleh para pekerja, tetapi juga merembet ke anggota keluarga mereka, termasuk anak-anak. Mereka terpaksa berbagi ruang hidup dengan tumpukan perangkat bekas, yang bisa saja bersebelahan dengan area makan, tempat tidur, atau area bermain anak. "Ada dampak, terutama pada anak-anak, karena toksin ekstrem. Ada kekurangan akuntabilitas dalam memperbaiki kondisi pekerja," kata Chaturvedi. Ia merinci berbagai risiko kesehatan yang mengintai, mulai dari luka dan infeksi, hingga paparan timbal, debu beracun, dan bahan kimia berbahaya. Paparan timbal, misalnya, dapat menghambat penyerapan zat besi, menyebabkan anemia dan kelemahan, terutama pada perempuan dan anak-anak yang tinggal di lingkungan kerja yang sama.
Fenomena di India ini memberikan pelajaran berharga bagi negara-negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Seiring dengan meningkatnya konsumsi gawai, volume ponsel tua, laptop rusak, dan kabel bekas juga membengkak. Tanpa sistem pengumpulan dan daur ulang yang aman, beban penanganan limbah ini acapkali jatuh pada sektor informal: pemulung, pembongkar barang bekas, dan pekerja bengkel kecil yang minim perlindungan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa kegiatan daur ulang informal dapat melepaskan timbal, merkuri, kadmium, dan dioksin ke lingkungan. Paparan racun ini tidak hanya berhenti di bengkel, tetapi dapat menyebar melalui udara, menempel pada debu rumah, dan terhirup oleh anak-anak.
Sistem daur ulang informal mungkin terlihat ekonomis di awal, namun biaya sosial dan kesehatan yang ditimbulkannya jauh lebih besar. Angka kesakitan meningkat, produktivitas menurun, dan anak-anak tumbuh dengan risiko paparan racun yang lebih tinggi, menciptakan lingkaran masalah yang berkepanjangan. Al Jazeera melaporkan bahwa upaya konfirmasi kepada Kementerian Lingkungan Hidup, Hutan, dan Perubahan Iklim India serta Komite Pengendalian Pencemaran Delhi mengenai keselamatan pekerja dan penegakan aturan belum membuahkan hasil. Keheningan regulator ini kembali memunculkan pertanyaan fundamental: siapa yang bertanggung jawab ketika limbah elektronik terus bertambah, sementara mereka yang menanganinya justru paling rentan?
Tekanan diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan semakin cepatnya siklus penggantian perangkat elektronik dan lonjakan volume limbah. Jika perlindungan bagi para pekerja informal ini terus tertinggal, para pekerja e-waste seperti Mateen Malik dan Muhammad Faizan akan terus menanggung beban yang tak pernah tercatat di label harga produk apa pun.











