Sebuah studi genomik terbaru berhasil menguak petunjuk penting mengenai adaptasi evolusioner yang menjadikan kukang sebagai salah satu mamalia dengan pergerakan dan metabolisme paling lambat di dunia. Temuan ini tidak hanya menjelaskan fenomena alam yang unik, tetapi juga membuka potensi wawasan baru untuk aplikasi medis, termasuk penanganan penyakit degeneratif dan penuaan.
Para peneliti dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Jerman, dan Hospital Sírio-Libanês, Brasil, melakukan analisis mendalam terhadap genom kukang berjari dua (Choloepus didactylus). Perbandingan dilakukan dengan puluhan mamalia lain, termasuk trenggiling dan armadillo yang secara taksonomi berkerabat dekat. Fokus utama penelitian ini adalah pada urutan DNA yang dikenal sebagai transposon atau "gen loncat". Gen-gen ini memiliki kemampuan untuk berpindah atau menyalin diri ke posisi baru dalam genom, memainkan peran krusial dalam kisah evolusi berbagai spesies.
Bukti aktivitas transposon pada garis evolusi kukang terdeteksi membentang lebih dari 30 juta tahun ke belakang. Yang menarik perhatian para ilmuwan adalah bahwa sejumlah gen transposon ini ternyata memiliki keterkaitan erat dengan mitokondria, organel sel yang bertanggung jawab atas produksi energi, serta gen-gen lain yang terlibat dalam proses metabolisme.
"Temuan kami menunjukkan bahwa kukang mungkin telah mengembangkan ‘sistem cadangan’ genetik yang membantu mengompensasi mitokondria mereka yang ‘santai’ dan mendukung gaya hidup unik mereka," ujar Camila Mazzoni, ahli genomika keanekaragaman hayati dari Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Jerman, seperti dikutip dari Science Alert.
Secara sederhana, rendahnya kebutuhan energi seluler pada kukang diduga memungkinkan akumulasi mutasi pada genom mitokondria mereka yang bergerak lambat. Gen loncat, dalam konteks ini, kemungkinan berfungsi sebagai mekanisme kompensasi. Mereka menciptakan jalur genetik alternatif yang memungkinkan organisme tetap berfungsi secara optimal meskipun dengan efisiensi energi yang sangat rendah. Namun, para peneliti menekankan bahwa penelitian lebih lanjut masih sangat diperlukan untuk mengonfirmasi hipotesis ini secara definitif.
Riset yang dipublikasikan dalam jurnal BMC Biology ini mengungkapkan bahwa beberapa urutan genetik yang terkait dengan aktivitas transposon telah terjaga selama kurang lebih 30 juta tahun. Periode waktu ini diperkirakan berasal dari nenek moyang bersama kukang modern, yaitu setelah garis evolusi kukang berpisah dari trenggiling dan armadillo.
"Kukang memiliki metabolisme paling lambat dari semua mamalia, namun mereka tetap sehat," tegas Mazzoni. "Memahami bagaimana mereka mencapai ini bisa mengungkap wawasan baru tentang cara sel mengelola energi secara efisien."
Implikasi dari temuan ini meluas hingga ke ranah kesehatan manusia. Berbagai kondisi medis yang umum terjadi pada manusia, seperti diabetes, gangguan yang berkaitan dengan penuaan, penyakit neurodegeneratif, dan atrofi otot, seringkali melibatkan masalah dalam produksi energi seluler dan fungsi mitokondria. Sebagai contoh, obesitas dapat memberikan dampak negatif pada kinerja mitokondria, dan disfungsi pada organel ini telah dikaitkan dengan penyakit serius seperti Parkinson.
Pedro Galante, seorang ahli biologi molekuler dari Hospital Sírio-Libanês, Brasil, menambahkan bahwa meskipun riset lanjutan masih krusial, lini sel kukang berpotensi menjadi model alami yang sangat berharga. Model ini dapat membantu para ilmuwan memahami bagaimana organisme mampu bertahan dalam kondisi energi rendah, serta mengidentifikasi apa yang salah ketika penyakit terkait metabolisme terjadi.
"Dalam jangka panjang, ini bisa menginformasikan riset tentang preservasi jaringan, pengobatan perawatan kritis, penuaan, penyakit metabolik, bahkan perjalanan luar angkasa jarak jauh," papar Galante.
Lebih jauh lagi, para peneliti menyoroti kontras menarik antara mekanisme DNA yang dipicu oleh gen loncat. Pada manusia, perubahan DNA yang dihasilkan oleh gen loncat dapat memicu perkembangan kanker. Namun, kukang menunjukkan toleransi yang luar biasa terhadap mekanisme ini, menjadikannya subjek penelitian yang semakin menarik untuk mengungkap rahasia ketahanan biologis mereka.
"Evolusi telah menjalankan miliaran eksperimen," kata Marcela Uliano-Silva, seorang ahli bioinformatika dari Wellcome Sanger Institute, Inggris. "Dengan mempelajari hewan-hewan yang tidak biasa seperti kukang, kita terkadang menemukan solusi biologis yang tidak pernah berevolusi pada manusia."
Penelitian ini menegaskan kembali betapa pentingnya mempelajari keanekaragaman hayati untuk menemukan jawaban atas tantangan ilmiah dan medis yang dihadapi umat manusia. Adaptasi unik kukang dalam mengelola energi membuka jendela baru untuk memahami kompleksitas biologi seluler dan potensinya dalam pengembangan terapi di masa depan.











