Saturday, 15 August 2026
BREAKING
BERITA

Trump Klaim Selat Hormuz Akan Jadi Wilayah AS, Iran Tolak Keras

Oleh Emanuel August 15, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengisyaratkan niatnya untuk mendeklarasikan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya situasi di jalur pelayaran strategis tersebut, yang belakangan ini mengalami blokade dan ketegangan.

Trump, dalam sebuah pernyataannya, menyebutkan bahwa ia akan segera mengambil langkah tersebut. Namun, detail mengenai implementasi dan dasar hukum dari klaim ini belum diuraikan lebih lanjut. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut yang sangat vital bagi perdagangan global, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman.

Menanggapi klaim Trump, Iran dengan tegas menolak dan menegaskan kedaulatannya atas wilayah tersebut. Kementerian Luar Negeri Iran melalui juru bicaranya, Nasser Kanaani, menyatakan bahwa Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali Iran. “Klaim seperti itu tidak memiliki dasar hukum dan tidak akan pernah terjadi,” tegas Kanaani pada konferensi pers di Teheran, seperti dikutip dari kantor berita Mehr, Rabu (10/1/2024).

Kanaani lebih lanjut menambahkan bahwa Iran memiliki hak dan kapasitas untuk mengontrol Selat Hormuz. Ia juga mengingatkan bahwa setiap negara yang mencoba mengganggu keamanan dan kebebasan navigasi di wilayah tersebut akan menghadapi konsekuensi serius. “Kami akan menggunakan semua hak dan kapasitas kami untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasional kami di Selat Hormuz,” ujarnya.

Ketegangan di Selat Hormuz memang telah meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Insiden yang melibatkan kapal-kapal komersial dan angkatan laut dari berbagai negara kerap terjadi, menimbulkan kekhawatiran internasional terhadap stabilitas jalur pelayaran yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia.

Pernyataan Trump ini dapat dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran, sekaligus menunjukkan sikap tegas dalam menjaga kepentingan maritim Amerika Serikat di kawasan tersebut. Namun, langkah ini berpotensi semakin memperkeruh hubungan diplomatik antara kedua negara dan meningkatkan risiko konflik di Timur Tengah.

Bagikan: Facebook X WhatsApp