Pemerintah China secara resmi merilis peta jalan strategis yang ambisius untuk memposisikan kecerdasan buatan (AI) sebagai motor penggerak utama perekonomian nasional pada tahun 2030. Dalam dokumen cetak biru teknologi terbaru yang menjadi bagian dari Rencana Lima Tahun ke-15, Beijing menetapkan AI sebagai fondasi fundamental bagi pengembangan berbagai teknologi masa depan. Ambisi ini mencakup integrasi AI dalam hampir seluruh aspek kehidupan ekonomi, mulai dari industri manufaktur hingga layanan publik.
Dalam visi jangka menengahnya, China menargetkan agar kecerdasan buatan meresap ke dalam 90 persen aktivitas ekonomi nasional pada tahun 2030. Ini bukan sekadar tentang peningkatan chatbot atau asisten virtual, melainkan transformasi fundamental di mana AI akan menjadi tulang punggung operasional bisnis, inovasi industri, efisiensi layanan publik, dan berbagai sektor ekonomi lainnya. Langkah ini mencerminkan keyakinan China bahwa AI akan menjadi kunci keunggulan kompetitif di panggung global.
Untuk mewujudkan visi besar ini, Beijing telah mengalokasikan investasi miliaran dolar AS ke dalam pengembangan teknologi strategis. Fokus utama investasi diarahkan pada sektor-sektor yang memiliki potensi transformatif tinggi, seperti pengembangan robot humanoid yang canggih. Robot ini dirancang untuk dapat membantu manusia dalam berbagai tugas, baik di lingkungan rumah tangga maupun di tempat kerja, serta untuk mengotomatisasi tugas-tugas rutin yang memakan waktu.
Selain robotika, China juga memberikan perhatian serius pada pengembangan teknologi masa depan lainnya yang sangat bergantung pada kapabilitas AI. Sektor-sektor prioritas mencakup teknologi fusi nuklir yang menjanjikan sumber energi bersih tak terbatas, komputasi kuantum yang akan merevolusi eksplorasi luar angkasa dan pemecahan masalah kompleks, biomanufaktur untuk produksi material dan obat-obatan inovatif, serta pengembangan jaringan komunikasi generasi keenam (6G) yang menawarkan kecepatan dan konektivitas luar biasa.
Inisiatif lain yang mendapat dorongan kuat adalah percepatan pengembangan industri penerbangan rendah (low-altitude economy), yang mencakup pengembangan mobil terbang dan sistem pengiriman barang berbasis drone. Lebih jauh lagi, China juga berupaya memajukan teknologi brain-computer interface (BCI), yang memungkinkan penerjemahan sinyal saraf otak menjadi perintah digital melalui bantuan AI. Semua inovasi ini, meski beragam, memiliki benang merah yang sama: AI sebagai otak pengendali sistem. Pemerintah China berkomitmen agar AI tidak hanya hadir sebagai layanan digital, tetapi tertanam kuat sebagai inti dari berbagai perangkat keras dan infrastruktur yang digunakan oleh masyarakat dan industri.
Integrasi AI dalam kehidupan sehari-hari di China sudah mulai terlihat dampaknya. Produsen otomotif terkemuka di negara itu kini menyematkan asisten AI dan fitur mengemudi pintar pada kendaraan mereka, meningkatkan pengalaman berkendara dan keselamatan. Perusahaan teknologi lokal juga terus menghadirkan perangkat wearable berbasis AI yang semakin canggih, menawarkan fungsi pemantauan kesehatan dan produktivitas yang lebih baik. Di sisi lain, model AI generatif video terbaru yang dikembangkan di China dilaporkan telah memicu kekhawatiran di industri perfilman Hollywood, mengingat kemampuannya menghasilkan konten visual yang sangat realistis dan berpotensi mengubah lanskap produksi film.
Dalam strategi pengembangan model AI, China mengadopsi pendekatan yang berbeda dari banyak raksasa teknologi AI di Amerika Serikat. Mayoritas model AI yang dikembangkan di China kini hadir dalam format open-source atau sumber terbuka. Hal ini memungkinkan pengembang lain di seluruh dunia untuk mengunduh, menggunakan, dan memodifikasi model-model tersebut secara bebas.
Pendekatan open-source ini kontras dengan strategi banyak model AI terkemuka dari AS yang cenderung bersifat tertutup dan hanya dapat diakses melalui layanan berbayar atau API. Kyle Chan, seorang peneliti di Brookings Institute, berpendapat bahwa strategi open-source China dirancang untuk mempercepat adopsi dan penyebaran teknologi AI secara masif, sekaligus memperluas ekosistem pengembang yang berkontribusi.
"Pendekatan open-source China bertujuan mendorong adopsi dengan memberikan model AI secara gratis, membangun ekosistem perangkat lunak yang lebih luas, lalu menawarkan layanan berbayar untuk integrasi dan dukungan teknis," jelas Chan. Model bisnis ini diharapkan dapat menciptakan efek jaringan yang kuat, mempercepat inovasi, dan memperkuat posisi China dalam ekosistem AI global.
Namun, ambisi besar China untuk menjadi pemimpin AI dunia tidak terlepas dari tantangan signifikan. Salah satu hambatan terbesar yang dihadapi adalah ketergantungan pada chip AI berperforma tinggi. Chip ini sangat krusial untuk melatih dan menjalankan model-model AI dalam skala besar, dan saat ini, teknologi chip AI kelas atas masih didominasi oleh perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat.
Sejak tahun 2022, pemerintah Amerika Serikat telah memberlakukan pembatasan ekspor chip AI canggih ke China sebagai bagian dari persaingan teknologi yang semakin ketat antara kedua negara. Kondisi ini semakin mendorong China untuk meningkatkan upaya pengembangan industri semikonduktor dalam negerinya sendiri agar tidak terlalu bergantung pada pasokan dari luar negeri. Meskipun demikian, kemampuan chip AI yang diproduksi di China saat ini dinilai masih tertinggal dibandingkan dengan yang terbaik dari AS.
Analisis dari Council on Foreign Relations menunjukkan bahwa chip AI terbaik buatan Huawei, salah satu produsen teknologi terkemuka China, memiliki performa yang diperkirakan sekitar lima kali lebih rendah dibandingkan dengan chip AI tercanggih yang tersedia di Amerika Serikat. Kesenjangan ini menjadi area krusial yang harus diatasi China jika ingin mencapai dominasi penuh dalam industri AI.











