Indonesia berpotensi kehilangan kesempatan menjadi tuan rumah Piala ASEAN 2026. Turnamen yang dijadwalkan bergulir tahun depan ini tengah dilanda krisis akibat adanya konflik politik yang melibatkan federasi sepak bola internasional. Situasi semakin rumit pasca keputusan India untuk menarik diri sebagai salah satu peserta, yang kemudian memicu gelombang boikot dari sejumlah konfederasi besar.
Ketegangan ini melibatkan AFC (Asia), UEFA (Eropa), dan CONCACAF (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia). Ketiga konfederasi tersebut dikabarkan tengah melobi FIFA agar Piala ASEAN 2026 tidak dilanjutkan di Indonesia. Alasan di balik penolakan ini diduga kuat berkaitan dengan sengketa politik yang tengah memanas, meskipun detail spesifik mengenai inti permasalahan tersebut belum diungkapkan secara gamblang.
Mundurnya India dari daftar peserta menjadi pemicu utama eskalasi konflik ini. Keputusan tersebut tampaknya menjadi sinyal bagi konfederasi lain untuk mengambil sikap serupa. Sumber internal yang enggan disebutkan namanya menyatakan, “Ini bukan sekadar masalah teknis penyelenggaraan turnamen, tetapi sudah masuk ranah politik antar federasi yang sangat sensitif.”
Implikasi dari boikot yang dilancarkan oleh AFC, UEFA, dan CONCACAF ini sangat signifikan. Ketiga konfederasi tersebut memiliki pengaruh besar dalam struktur FIFA, sehingga penolakan mereka dapat menggagalkan agenda Piala ASEAN 2026. “Jika tekanan ini terus berlanjut, sangat mungkin FIFA akan mempertimbangkan kembali keputusan menunjuk Indonesia sebagai tuan rumah, atau bahkan membatalkan turnamen ini sama sekali,” tambah sumber tersebut.
Piala ASEAN sendiri merupakan salah satu turnamen regional yang penting di bawah naungan FIFA, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sepak bola di kawasan Asia Tenggara. Namun, dinamika politik yang terjadi saat ini justru mengancam keberlangsungan turnamen tersebut, menciptakan ketidakpastian besar bagi para penggemar sepak bola di Indonesia dan negara-negara peserta lainnya.
