Presiden Rusia Vladimir Putin mendarat di salah satu pulau yang disengketakan di Kepulauan Kuril, memicu reaksi keras dari Jepang yang menganggap kunjungan tersebut sebagai tindakan provokatif. Insiden ini semakin memperdalam keretakan hubungan diplomatik antara kedua negara, yang telah lama bersitegang terkait kedaulatan atas gugusan kepulauan tersebut.
Dalam kunjungan yang berlangsung pada Selasa, 19 Maret 2024, Putin mengunjungi Pulau Iturup, salah satu dari empat pulau yang diklaim oleh Jepang dan secara efektif dikuasai oleh Rusia sejak akhir Perang Dunia II. Kunjungan mendadak ini dipandang oleh Tokyo sebagai pelanggaran kedaulatan dan penolakan terhadap upaya penyelesaian damai yang telah lama tertunda.
Kementerian Luar Negeri Jepang segera merespons dengan menyatakan protes keras atas kunjungan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Jepang, Yasuhiro Nishi, dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa Jepang “tidak dapat menerima” tindakan yang dianggapnya semakin memperburuk situasi. “Kunjungan tersebut sangat disesalkan dan tidak dapat diterima oleh Jepang,” ujar Nishi, menekankan bahwa Kepulauan Kuril, yang mereka sebut Wilayah Utara, adalah bagian integral dari wilayah Jepang.
Putin sendiri menyatakan kunjungannya tersebut bertujuan untuk meningkatkan kehidupan masyarakat di pulau-pulau tersebut dan memperkuat hubungan antara Rusia dan wilayah Timur Jauh. Ia dilaporkan telah membahas berbagai proyek pembangunan dengan para pejabat lokal, termasuk peningkatan infrastruktur dan pengembangan ekonomi. Dalam salah satu pernyataannya, Putin menekankan pentingnya pengembangan wilayah tersebut, seraya menambahkan, “Kami akan terus bekerja untuk meningkatkan kehidupan dan kesejahteraan penduduk di pulau-pulau ini.”
Namun, narasi pembangunan ini tampaknya tidak meredakan kekhawatiran Jepang. Jepang telah lama mengupayakan pengembalian keempat pulau yang mereka sebut Wilayah Utara, yaitu Kunashiri, Etorofu, Shikotan, dan Kepulauan Habomai. Sengketa wilayah ini telah menjadi penghalang utama bagi penandatanganan perjanjian damai formal antara kedua negara pasca-Perang Dunia II.
Kunjungan Putin kali ini terjadi di tengah lanskap geopolitik yang semakin kompleks, termasuk dampak dari perang di Ukraina dan pergeseran aliansi regional. Jepang, sebagai sekutu Amerika Serikat, telah mengambil sikap tegas terhadap agresi Rusia, termasuk penerapan sanksi ekonomi. Kunjungan Putin ke wilayah sengketa ini semakin menggarisbawahi ketegangan yang ada dan mengindikasikan bahwa resolusi damai atas sengketa Kepulauan Kuril masih jauh dari tercapai.
