Saturday, 11 July 2026
BREAKING
BERITA

Cadangan Devisa RI Menipis, Menko Airlangga Angkat Bicara: "Nanti Kita Cari Lagi"

Oleh Heni Maulidya June 22, 2026 3 weeks lalu 0 komentar

JAKARTA – Cadangan devisa Indonesia kembali menunjukkan tren penurunan hingga akhir Mei 2026, menyentuh level terendah dalam hampir dua tahun terakhir. Berdasarkan data terbaru, posisi aset cadangan luar negeri tercatat sebesar US$144,9 miliar. Angka ini mengalami penyusutan sebesar US$1,3 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan optimisme pemerintah untuk kembali memperkuat cadangan devisa di masa mendatang. "Ya nanti kita cari lagi cadev (cadangan devisa)," ujar Airlangga singkat saat ditemui di kantornya pada Senin (8/6/2026).

Pernyataan Airlangga disampaikan di tengah kekhawatiran pasar terhadap tren penurunan cadangan devisa yang terus berlanjut sepanjang tahun berjalan. Posisi cadangan devisa saat ini bahkan telah berada pada titik terendah sejak Juni 2024.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa terdapat beberapa variabel utama yang memengaruhi dinamika cadangan devisa pada periode tersebut. Ia merinci bahwa penurunan ini utamanya disebabkan oleh kebutuhan akan valuta asing untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan stabilisasi nilai tukar Rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan global.

Denny menegaskan bahwa Bank Indonesia perlu mengambil langkah stabilisasi sebagai respons terhadap ketidakpastian yang masih tinggi di pasar keuangan internasional. Selain itu, terdapat pula peningkatan permintaan valuta asing dari sektor domestik yang bersifat musiman, seperti pembayaran dividen oleh perusahaan asing kepada pemegang sahamnya di luar negeri, serta pemenuhan kebutuhan impor barang dan jasa.

Tekanan pada cadangan devisa ini sejalan dengan kondisi makroekonomi yang menantang, termasuk fluktuasi nilai tukar yang cukup tajam. Sepanjang tahun 2026, cadangan devisa nasional dilaporkan telah berkurang sekitar US$11,57 miliar. Penurunan ini turut berbarengan dengan pelemahan nilai tukar Rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.033 per dolar Amerika Serikat, salah satu titik terlemah sepanjang sejarah mata uang Garuda dalam menghadapi tekanan eksternal.

Posisi cadangan devisa per akhir Mei 2026 sebesar US$144,9 miliar menunjukkan penurunan US$1,3 miliar dibandingkan bulan April 2026. Akumulasi penurunan sepanjang tahun berjalan telah mencapai US$11,57 miliar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa meskipun terdapat potensi arus masuk modal, seperti melalui instrumen obligasi global, pengeluaran untuk stabilisasi dan kewajiban luar negeri masih mendominasi arus keluar modal. Pemerintah dan Bank Indonesia terus berkoordinasi untuk memastikan ketahanan sektor eksternal tetap terjaga.

Di tengah tantangan ini, terdapat pula kabar positif dari sektor riil. Sebanyak 18 produk asal Indonesia berhasil mendapatkan pembebasan tarif tambahan dari Amerika Serikat. Produk-produk tersebut meliputi kategori suku cadang hingga hasil perkebunan, yang diharapkan dapat mendongkrak kinerja ekspor nasional.

Sementara itu, dari sektor pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan akibat tertahannya dialog damai antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi geopolitik ini turut memengaruhi sentimen investor global, yang berujung pada aksi jual saham di pasar domestik.

Namun, industri asuransi tanah air justru menunjukkan pertumbuhan positif dengan kenaikan aset sebesar 3,39 persen secara tahunan, mencapai Rp1.202 triliun. Hal ini mengindikasikan bahwa di tengah volatilitas pasar uang, sektor jasa keuangan tertentu masih memiliki ruang untuk bertumbuh dan memberikan kontribusi positif bagi perekonomian.

Pemerintah juga terus berupaya melindungi produk lokal dengan mengatur ulang ekosistem e-commerce melalui Kementerian Perdagangan. Langkah ini diambil agar pengusaha dalam negeri tetap memiliki daya saing yang kuat dalam menghadapi serbuan produk impor di platform digital.

Bank Indonesia sendiri terus berupaya mendorong likuiditas di pasar uang dengan membuka kurva imbal hasil yang lebih kompetitif. Strategi ini diharapkan mampu menarik kembali minat investor asing untuk menempatkan dana mereka di instrumen keuangan dalam negeri, guna memperkuat posisi cadangan devisa dan stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait