Warga di wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T) kini merasakan dampak positif kehadiran infrastruktur telekomunikasi. Akses internet yang sebelumnya menjadi barang langka, kini semakin mudah dijangkau di daerah seperti Flores Timur dan Parigi Moutong, mengakhiri kebiasaan lama seperti naik pohon demi mendapatkan sinyal.
Perubahan signifikan ini dimungkinkan berkat upaya perluasan infrastruktur telekomunikasi yang terus digalakkan. Pembangunan menara Base Transceiver Station (BTS) oleh Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Kominfo menjadi kunci utama dalam menghadirkan konektivitas digital di wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Salah satu contoh nyata perubahan ini terlihat di Desa Waiwerang, Kecamatan Adonara, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Sebelumnya, warga harus bersusah payah mencari titik dengan sinyal yang memadai, bahkan rela memanjat pohon atau mendaki bukit. Kini, dengan adanya BTS yang beroperasi, akses internet menjadi lebih stabil dan terjangkau.
Hal serupa dirasakan oleh masyarakat di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Keberadaan infrastruktur telekomunikasi telah membuka pintu bagi berbagai kemudahan. Mulai dari akses informasi, komunikasi dengan keluarga di perantauan, hingga pemanfaatan layanan digital untuk keperluan ekonomi dan pendidikan.
Menteri Komunikasi dan Informatika, Budi Arie Setiadi, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya pemerataan akses digital. “Kita tidak boleh membiarkan saudara-saudara kita di wilayah 3T tertinggal dalam hal konektivitas,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pembangunan infrastruktur ini merupakan langkah strategis untuk mewujudkan keadilan digital di seluruh Indonesia.
Program penyediaan akses internet di wilayah 3T ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah untuk mengurangi kesenjangan digital. Dengan semakin terjangkaunya akses internet, diharapkan masyarakat di daerah-daerah tersebut dapat turut serta dalam arus informasi global, meningkatkan kualitas hidup, dan membuka peluang ekonomi baru.
