Thursday, 6 August 2026
BREAKING
BERITA

AS Terapkan Tarif Impor Polysilicon, Industri Surya Global Terancam

Oleh Emanuel August 6, 2026 2 hours lalu 0 komentar

Pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump berencana memberlakukan langkah proteksionis baru dengan menetapkan harga minimum impor dan tarif bea masuk untuk polysilicon. Keputusan ini berpotensi menimbulkan efek domino yang luas, memengaruhi industri energi surya di seluruh dunia.

Langkah ini diumumkan oleh United States International Trade Commission (USITC) pada 13 September 2019. USITC merekomendasikan penetapan tarif bea masuk sebesar 10 persen untuk polysilicon yang diimpor dari negara-negara lain. Selain itu, ada pula usulan untuk menerapkan harga minimum impor. Kebijakan ini secara spesifik menargetkan polysilicon yang berasal dari Tiongkok, yang merupakan produsen terbesar di dunia.

Polysilicon merupakan bahan baku krusial dalam pembuatan panel surya. Dengan adanya tarif dan harga minimum, biaya produksi panel surya diperkirakan akan meningkat secara signifikan. Hal ini tentu akan membebani konsumen dan perusahaan energi surya yang bergantung pada pasokan polysilicon global.

Keputusan ini disambut dengan kekhawatiran oleh para pelaku industri. “Ini adalah pukulan telak bagi industri energi surya Amerika Serikat,” ujar J.R. Verkamp, ketua koalisi yang mewakili produsen panel surya di AS, dalam sebuah pernyataan. Menurut Verkamp, kebijakan ini justru akan merugikan daya saing industri energi terbarukan di dalam negeri dan memperlambat transisi energi bersih.

Dampak dari kebijakan ini tidak hanya dirasakan oleh Amerika Serikat. Negara-negara lain yang bergantung pada impor polysilicon, terutama untuk industri manufaktur panel surya mereka, juga akan menghadapi tantangan serupa. Potensi kenaikan harga polysilicon akan membuat harga panel surya menjadi lebih mahal, yang pada gilirannya dapat menghambat adopsi energi surya secara global.

Para kritikus berpendapat bahwa kebijakan ini lebih menguntungkan produsen polysilicon domestik Amerika Serikat, namun mengorbankan kepentingan konsumen dan industri energi surya yang lebih luas. Mereka berargumen bahwa proteksionisme semacam ini dapat memicu perang dagang serupa yang pernah terjadi sebelumnya, menciptakan ketidakpastian dan volatilitas di pasar global.

Bagikan: Facebook X WhatsApp