PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) akhirnya memberikan tanggapan resmi terkait imbauan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati yang meminta Toyota memindahkan pabriknya dari Thailand ke Indonesia. Pernyataan ini disampaikan menyusul diskusi yang berkembang mengenai potensi investasi dan relokasi pabrik di tengah dinamika industri otomotif global.
Menanggapi hal tersebut, Direktur Pemasaran TMMIN, Anton Karundeng, menegaskan bahwa keputusan strategis mengenai relokasi pabrik merupakan kewenangan induk perusahaan, yaitu Toyota Motor Corporation (TMC) di Jepang. “Keputusan relokasi pabrik merupakan ranah dari Toyota Motor Corporation (TMC) di Jepang. Kami di sini (TMMIN) sebagai operator,” ujar Anton dalam sebuah kesempatan.
Anton menambahkan bahwa TMMIN senantiasa menjalankan operasional sesuai dengan arahan dari kantor pusat. Ia juga menggarisbawahi bahwa TMMIN telah berkomitmen untuk terus berinvestasi dan mengembangkan kapasitas produksinya di Indonesia. “Kami selalu mengikuti arahan dari TMC. TMMIN sendiri terus berkomitmen untuk investasi dan pengembangan di Indonesia,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memang sempat melontarkan wacana agar Toyota mempertimbangkan pemindahan fasilitas produksinya dari Thailand ke Indonesia. Hal ini disampaikan Sri Mulyani dalam sebuah acara diskusi di Jakarta pada Rabu (21/2/2024). Beliau melihat adanya potensi besar di Indonesia untuk menjadi basis produksi otomotif.
Sri Mulyani mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan dalam hal pasar domestik yang besar serta potensi ekspor ke negara-negara lain. Ia berharap agar keputusan investasi global yang diambil oleh prinsipal otomotif dapat mempertimbangkan Indonesia sebagai destinasi utama. “Dengan adanya potensi pasar domestik yang besar dan potensi ekspor, kami berharap prinsipal otomotif melihat Indonesia,” kata Sri Mulyani.
Pernyataan Sri Mulyani tersebut didasari oleh adanya pergerakan industri otomotif global yang sedang melakukan evaluasi ulang terhadap rantai pasok dan basis produksinya. Situasi ini membuka peluang bagi Indonesia untuk menarik investasi yang lebih besar, termasuk kemungkinan relokasi pabrik dari negara lain yang mungkin menghadapi tantangan berbeda.
