Lumajang – Menyusul insiden tragis yang menimpa seorang penambang pasir di kawasan Gunung Semeru, Bupati Lumajang, Indah Amperawati, mengeluarkan imbauan tegas untuk memperketat aturan jam operasional aktivitas penambangan pasir. Imbauan ini dikeluarkan sebagai langkah mitigasi krusial untuk menekan potensi risiko yang mengintai di daerah rawan bencana tersebut.
Peristiwa nahas terjadi pada Sabtu (20/6) dini hari, ketika Veri Irawan (33), warga Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, harus kehilangan nyawa setelah tertimbun material sisa awan panas guguran (APG) Gunung Semeru. Ironisnya, korban diketahui memulai aktivitas penambangan manual di aliran lahar Semeru sejak Jumat (19/6) malam, yang dinilai sebagai jam kerja yang sangat berisiko.
Bupati Indah menekankan bahwa pembatasan waktu operasional penambangan bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah strategi penting dalam upaya mengurangi kerentanan terhadap perubahan kondisi alam yang dinamis di sekitar aliran material vulkanik. "Aktivitas penambangan pasir di kawasan Gunung Semeru perlu memperhatikan batas waktu operasional yang aman," tegas Bupati Indah dalam keterangan resminya di Lumajang, Minggu (21/6), seperti dikutip dari Antara.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan penambangan yang dilakukan hingga larut malam sangat tidak disarankan. Kondisi lapangan pada jam-jam tersebut cenderung sulit dipantau secara optimal, sementara dinamika Semeru dapat berubah seketika. Perubahan tersebut bisa dipicu oleh faktor cuaca ekstrem, pergerakan material vulkanik, hingga potensi aliran lahar yang sewaktu-waktu bisa terjadi, terutama ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu.
"Kami terus mengingatkan agar aktivitas penambangan memperhatikan waktu operasional yang aman. Hal itu penting agar para penambang memiliki ruang keselamatan yang lebih baik saat bekerja di kawasan rawan bencana Semeru," ujar Bupati Indah. Penerapan jam operasional yang lebih tertib, lanjutnya, akan sangat membantu para penambang dalam memantau kondisi lapangan secara lebih efektif. Selain itu, hal ini juga akan mempercepat respons apabila ada informasi kebencanaan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang.
Bupati Indah memaparkan, aktivitas penambangan yang dilakukan pada siang hingga sore hari memberikan kesempatan lebih besar bagi para penambang untuk mengenali setiap perubahan kondisi di sekitar mereka. Hal ini berbeda jika kegiatan dilakukan pada malam hari, di mana visibilitas menurun drastis dan potensi bahaya menjadi lebih sulit terdeteksi secara cepat.
Pemerintah daerah berkomitmen untuk mendorong seluruh elemen yang terlibat dalam aktivitas penambangan, mulai dari para penambang, koordinator lapangan, hingga perangkat desa, untuk bersama-sama membangun budaya kerja yang mengutamakan keselamatan. Kedisiplinan terhadap jam operasional diharapkan menjadi bagian integral dari budaya kerja yang aman.
"Pembatasan waktu operasional itu bukan untuk menghambat mata pencaharian masyarakat, tetapi untuk memastikan aktivitas ekonomi tetap berjalan dengan memperhatikan keselamatan penambang dan warga di sekitarnya," jelas Bupati Indah. Ia menegaskan bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama yang tak terpisahkan dari setiap aktivitas ekonomi yang berlangsung di kawasan rawan bencana Semeru.
Oleh karena itu, kepatuhan terhadap jam operasional yang telah ditetapkan, peningkatan kewaspadaan terhadap kondisi lapangan, serta perhatian serius terhadap informasi resmi kebencanaan menjadi elemen-elemen yang perlu terus diperkuat. Pemerintah Kabupaten Lumajang akan terus gencar melakukan sosialisasi dan penguatan komunikasi dengan komunitas penambang. Tujuannya adalah agar imbauan terkait jam operasional yang aman dapat dipahami dan dijalankan secara konsisten di lapangan.
Dengan penegakan disiplin waktu operasional, peningkatan kewaspadaan, dan kepatuhan terhadap imbauan keselamatan, diharapkan aktivitas penambangan pasir di kawasan Semeru dapat berjalan dengan lebih aman, terukur, dan penuh tanggung jawab.
Sementara itu, nasib nahas menimpa Veri Irawan. Ia yang mengalami luka bakar serius hingga mencapai 80 persen akibat tertimbun material APG Semeru, dan tengah menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Haryoto Lumajang, dilaporkan meninggal dunia pada Minggu pagi. Kepergiannya menjadi pengingat keras akan tingginya risiko yang dihadapi para penambang di area yang sangat rentan terhadap aktivitas vulkanik.
Peristiwa ini juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, aparat keamanan, dan masyarakat penambang dalam mengelola risiko bencana. Upaya pencegahan, mitigasi, dan kesiapsiagaan harus terus ditingkatkan untuk melindungi nyawa dan aset masyarakat di sekitar kaki Gunung Semeru, salah satu gunung api paling aktif di Indonesia. Keberlangsungan ekonomi masyarakat harus selalu sejalan dengan prinsip keselamatan jiwa.











