Satu bulan menjelang bergulirnya musim baru Women’s Super League (WSL), Manchester United Women dilaporkan berada dalam kondisi yang mengkhawatirkan. Klub raksasa asal Inggris ini kini tengah berjuang tanpa manajer tetap dan dengan skuad yang dinilai sangat tipis, menimbulkan pertanyaan mengenai keseriusan mereka dalam pengembangan tim sepak bola wanita.
Situasi ini tentu menjadi sorotan tajam, mengingat Manchester United merupakan salah satu nama besar di kancah sepak bola dunia. Kepergian mantan pelatih Marc Skinner pada bulan Juli lalu, yang kini telah beralih ke posisi di tim akademi, menyisakan kekosongan di kursi kepelatihan. Hingga kini, belum ada pengganti yang diumumkan secara resmi, meninggalkan tim dalam ketidakpastian strategis menjelang kompetisi.
Lebih lanjut, kedalaman skuad menjadi isu krusial lainnya. Sejumlah pemain kunci dilaporkan telah meninggalkan klub, memperparah kondisi yang sudah ada. Laporan mengindikasikan bahwa tim saat ini hanya diperkuat oleh segelintir pemain, yang berpotensi menimbulkan kesulitan besar dalam menghadapi jadwal padat dan persaingan ketat di WSL.
Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pendukung dan pengamat sepak bola wanita. Pertanyaan besar pun mengemuka: apakah Manchester United masih memiliki keyakinan dan komitmen penuh terhadap tim sepak bola wanita mereka? Ketiadaan manajer dan skuad yang minim bisa diartikan sebagai kurangnya investasi dan prioritas dari pihak manajemen klub.
Musim WSL sendiri dijadwalkan akan dimulai pada akhir September 2024. Dengan waktu yang semakin sempit, Manchester United memiliki pekerjaan rumah yang sangat berat untuk segera menunjuk manajer baru dan memperkuat barisan pemain mereka. Kegagalan dalam mengatasi kedua masalah fundamental ini bisa berdampak negatif pada performa tim dan citra klub di mata publik sepak bola wanita.
