Fenomena alam embun upas atau embun beku kembali menyapa Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, dan menjadi magnet kuat bagi ribuan wisatawan. Kemunculan embun yang menyerupai salju ini berhasil mendongkrak angka kunjungan ke salah satu destinasi wisata populer di Indonesia tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan kejadian alamiah yang lazim terjadi.
Menurut BMKG, embun upas adalah embun yang membeku akibat suhu udara yang sangat dingin, bahkan bisa mencapai minus derajat Celsius. Fenomena ini umumnya muncul pada musim kemarau, terutama saat malam hingga dini hari. Kondisi atmosfer yang kering dan cerah saat musim kemarau memungkinkan suhu permukaan tanah dan vegetasi mendingin dengan cepat di bawah titik beku.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Banjarnegara, Setyo Adi, merinci bahwa embun beku ini terbentuk ketika uap air di udara bersentuhan dengan permukaan yang sangat dingin. “Ketika suhu udara mencapai nol derajat Celsius atau lebih rendah, uap air akan langsung berubah menjadi kristal es tanpa melalui fase cair terlebih dahulu,” jelas Setyo Adi.
Ia menambahkan, embun upas biasanya terjadi di area terbuka dengan vegetasi yang cukup, seperti kebun teh atau ladang kentang di Dataran Tinggi Dieng. Keindahan embun yang melapisi rerumputan dan dedaunan ini menciptakan pemandangan unik yang jarang ditemui di Indonesia, sehingga menarik minat banyak wisatawan untuk mengabadikannya.
Meskipun menjadi daya tarik wisata, BMKG mengingatkan bahwa suhu ekstrem ini dapat berpotensi memengaruhi tanaman pertanian, terutama yang sensitif terhadap dingin. Namun, bagi sektor pariwisata, fenomena embun upas ini justru menjadi berkah tersendiri. Ribuan wisatawan dilaporkan memadati kawasan Dieng sejak pagi untuk menyaksikan langsung fenomena langka ini, yang diperkirakan akan terus berlangsung selama musim kemarau masih melanda.
