Iran telah mengeluarkan ancaman tegas terhadap Amerika Serikat, menyiratkan adanya respons keras jika terjadi serangan lebih lanjut. Peringatan ini disampaikan pada Minggu, 14 April 2024, di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Ancaman tersebut juga ditujukan kepada sekutu AS di kawasan, termasuk Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanaani, menyatakan bahwa negara-negara tersebut siap menanggung konsekuensi jika mereka terlibat dalam tindakan permusuhan terhadap Iran. “Setiap negara yang membuka pintu bagi serangan terhadap Iran dari wilayahnya akan menerima tanggapan yang tegas dan menghancurkan,” ujar Kanaani.
Pernyataan ini muncul sebagai respons Iran terhadap serangan rudal dan drone yang diluncurkan ke Israel pada Sabtu malam, 13 April 2024. Iran mengklaim serangan tersebut merupakan balasan atas pengeboman konsulatnya di Damaskus, Suriah, pada 1 April 2024, yang menewaskan dua jenderal dan lima penasihat militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Dalam serangan balasan tersebut, Iran mengklaim telah menghancurkan sasaran militer penting di Israel.
Menanggapi serangan Iran, Dewan Keamanan PBB mengadakan pertemuan darurat pada Minggu, 14 April 2024. Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, menegaskan kembali hak Iran untuk membela diri sesuai dengan Piagam PBB. Ia menyatakan, “Republik Islam Iran tidak mencari eskalasi konflik di kawasan ini.” Namun, Iravani juga menekankan bahwa Iran akan merespons dengan tegas terhadap setiap agresi baru yang dilancarkan oleh Israel.
Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB, Linda Thomas-Greenfield, mengecam keras serangan Iran dan menyatakan dukungan AS terhadap Israel. Ia menegaskan, “Amerika Serikat akan mendukung hak Israel untuk membela diri.” Thomas-Greenfield juga menyerukan agar Dewan Keamanan PBB mengutuk serangan Iran.
Situasi semakin diperumit dengan laporan bahwa Iran telah menenggelamkan sebuah kapal kargo yang diduga milik Israel di Selat Hormuz. Insiden ini menambah kekhawatiran akan potensi peningkatan konflik di jalur pelayaran strategis tersebut.
