Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti lonjakan drastis jumlah satelit aktif yang mengorbit Bumi, khususnya di orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO). Proyeksi menunjukkan angka ini bisa mencapai 100.000 unit pada tahun 2030. Kondisi orbit yang semakin padat ini memunculkan kekhawatiran serius mengenai potensi ancaman tabrakan dan dampaknya terhadap ekosistem antariksa.
Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, Emanuel D. Ginting, menjelaskan bahwa peningkatan jumlah satelit ini didominasi oleh konstelasi satelit yang diluncurkan oleh berbagai negara dan perusahaan swasta. “Kita melihat tren peningkatan yang sangat signifikan. Jika tidak dikelola dengan baik, kepadatan ini bisa menimbulkan masalah serius,” ujar Emanuel dalam sebuah forum diskusi.
Ancaman utama yang dihadapi adalah meningkatnya risiko tabrakan antar satelit. Tabrakan ini tidak hanya dapat merusak satelit yang terlibat, tetapi juga menciptakan ribuan fragmen puing antariksa baru yang lebih kecil. Puing-puing ini, meskipun kecil, bergerak dengan kecepatan sangat tinggi di orbit dan dapat membahayakan satelit lain yang masih beroperasi, termasuk satelit yang vital untuk komunikasi, navigasi, dan observasi Bumi.
Emanuel Ginting menambahkan, “Setiap tabrakan akan menghasilkan lebih banyak sampah antariksa. Ini seperti efek domino yang bisa membuat orbit tertentu tidak dapat digunakan lagi di masa depan.” Fenomena ini dikenal sebagai sindrom Kessler, di mana kepadatan puing antariksa mencapai titik kritis sehingga tabrakan beruntun menjadi tak terhindarkan, melumpuhkan aktivitas antariksa.
BRIN menggarisbawahi pentingnya kolaborasi internasional dan pengembangan regulasi yang ketat untuk mengelola lalu lintas antariksa. Upaya mitigasi, seperti pemantauan pergerakan satelit, manuver penghindaran tabrakan, dan prosedur deorbitasi satelit yang sudah tidak berfungsi, perlu ditingkatkan secara masif. Tanpa langkah-langkah antisipatif, masa depan eksplorasi dan pemanfaatan antariksa terancam oleh kepadatan satelit yang semakin tak terkendali.
