Mengapa Teman Anda Main HP Saat Ngobrol? Pahami Alasan Psikologis di Baliknya

Heni Maulidya

Jakarta, CNN Indonesia — Pernahkah Anda merasa kesal saat sedang asyik bercerita atau berdiskusi serius, namun lawan bicara justru lebih tertarik pada layar ponselnya? Fenomena ini, yang dikenal sebagai phubbing (phone snubbing), semakin umum terjadi di era digital ini. Meskipun tampak sepele, perilaku ini dapat merusak kualitas interaksi sosial dan hubungan interpersonal. Lantas, apa yang sebenarnya mendorong seseorang untuk terus-menerus memeriksa ponselnya bahkan saat sedang berhadapan langsung dengan orang lain?

Phubbing adalah tindakan mengabaikan seseorang dalam percakapan tatap muka demi fokus pada perangkat seluler. Fenomena ini telah menjadi perhatian banyak penelitian, salah satunya yang dipublikasikan dalam jurnal ScienceDirect. Dalam studi tersebut, phubbing didefinisikan sebagai perilaku mengabaikan interaksi langsung karena perhatian lebih tercurah pada ponsel. Meskipun secara fisik hadir, secara mental dan emosional, individu tersebut seolah-olah tidak sepenuhnya berada di sana.

Dampak dari kebiasaan ini bisa sangat merugikan. Rasa tidak dihargai, diremehkan, atau bahkan tidak penting bisa dirasakan oleh orang yang sedang diajak bicara. Hal ini tentu saja dapat mengikis kepercayaan dan keintiman dalam sebuah hubungan. Namun, penting untuk dipahami bahwa phubbing tidak selalu muncul dari niat buruk untuk mengabaikan. Seringkali, ada faktor-faktor psikologis yang mendasarinya.

Salah satu alasan paling umum di balik perilaku phubbing adalah fear of missing out (FOMO) atau ketakutan akan ketinggalan informasi. Di era serba terhubung ini, informasi mengalir deras melalui berbagai platform digital. Orang dengan FOMO merasa perlu untuk terus-menerus memantau notifikasi, berita terbaru, pembaruan media sosial, atau pesan dari teman-teman mereka. Keinginan untuk tetap relevan dan terinformasi ini seringkali mengalahkan keinginan untuk fokus pada percakapan yang sedang berlangsung.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers memperkuat kaitan antara phubbing dengan beberapa faktor psikologis, termasuk kecanduan gawai, FOMO, dan bahkan rasa kesepian. Bagi sebagian orang, ponsel menjadi jendela utama untuk merasa tetap terhubung dengan dunia luar, meredakan rasa isolasi, atau mencari validasi sosial. Ketika mereka merasa ada potensi informasi penting atau interaksi sosial yang terlewatkan di dunia maya, ponsel menjadi objek perhatian utama.

Selain itu, phubbing juga bisa berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang bersifat otomatis. Seringkali, individu tidak secara sadar memutuskan untuk memeriksa ponselnya. Ketika sebuah notifikasi berbunyi, tangan secara refleks meraih perangkat. Ketika percakapan mengalami jeda singkat, layar ponsel langsung terbuka tanpa disadari. Seiring waktu, tindakan mengecek ponsel ini bertransformasi menjadi respons spontan yang dilakukan tanpa banyak pertimbangan.

Akibatnya, banyak orang yang melakukan phubbing tidak menyadari bahwa tindakan mereka mengganggu jalannya komunikasi dan membuat lawan bicara merasa diabaikan. Mereka mungkin berpikir bahwa mereka masih bisa mendengarkan dan berpartisipasi dalam percakapan sambil sesekali melihat ponsel, namun realitasnya, perhatian yang terbagi mengurangi kualitas interaksi secara signifikan.

Faktor psikologis lain yang berperan adalah kecemasan. Bagi sebagian orang, tidak membuka ponsel dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan perasaan gelisah. Mereka merasa ada dorongan kuat untuk segera membalas pesan, mengetahui kabar terbaru, atau sekadar memastikan tidak ada notifikasi penting yang terlewatkan. Kecemasan ini bisa menjadi pemicu utama seseorang untuk terus-menerus meraih ponselnya, bahkan ketika sedang bersama orang lain.

Sebuah studi yang dimuat dalam PubMed secara spesifik menyoroti bagaimana FOMO dapat berkontribusi pada kecemasan terkait penggunaan ponsel. Individu yang mengalami FOMO mungkin terus-menerus membuka ponsel bukan karena ada kebutuhan mendesak, melainkan sebagai mekanisme untuk meredakan rasa cemas yang timbul akibat perasaan tertinggal dari informasi atau aktivitas sosial yang sedang berlangsung di dunia maya.

Memahami akar permasalahan phubbing ini penting untuk mencari solusinya. Meskipun sulit melepaskan diri dari ponsel, terutama bagi mereka yang memiliki kecenderungan FOMO atau kecemasan, dampaknya terhadap kualitas komunikasi tidak bisa diabaikan.

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat diambil untuk mengurangi kebiasaan phubbing. Meletakkan ponsel dalam posisi terbalik di atas meja, mematikan notifikasi yang tidak mendesak untuk sementara waktu, atau bahkan menyimpannya di dalam tas saat sedang terlibat dalam percakapan yang penting dapat membantu mengembalikan fokus.

Memberikan perhatian penuh kepada lawan bicara adalah bentuk penghargaan yang fundamental dalam membangun hubungan yang sehat. Sikap ini menunjukkan bahwa kita menghargai waktu dan kehadiran mereka. Dengan kesadaran diri dan upaya kecil, kita dapat meningkatkan kualitas interaksi sosial kita di tengah gempuran teknologi digital yang terus berkembang. Intinya, menjaga keseimbangan antara konektivitas digital dan koneksi interpersonal adalah kunci untuk hubungan yang lebih bermakna dan harmonis.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All