Musim panas 2023 menjadi titik balik krusial bagi Newcastle United, mengubah optimisme awal di bawah asuhan Eddie Howe menjadi musim yang penuh tantangan. Keputusan-keputusan strategis yang diambil, terutama setelah kepergian Alexander Isak, disebut-sebut memicu serangkaian perekrutan terburu-buru dan berdampak pada performa tim di musim berikutnya.
Enam bulan sebelum kekalahan telak yang meresahkan, tepatnya pada September 2023, David Hopkinson, yang baru saja menjabat sebagai Chief Executive Newcastle, sempat melontarkan pujian setinggi langit untuk manajer Eddie Howe. Dalam sebuah kesempatan di Shearer’s Bar, St James’ Park, Hopkinson menyamakan Howe dengan Bruce Springsteen, menyebutnya sebagai “the Boss” dan “the talent”. Ia bahkan menggambarkan sebuah skenario imajiner di mana Howe, seperti Springsteen yang meminta M&M’s sebelum konser, akan diberikan “apa pun yang dia inginkan” untuk mendukungnya.
Namun, gambaran ideal tersebut berbanding terbalik dengan realitas enam bulan kemudian. Pada akhir Maret 2024, Hopkinson tampak lebih berhati-hati dalam pernyataannya. Saat duduk di ruang rapat St James’ Park, ia mengakui tidak memiliki “stance” mengenai masa depan manajer. Ia hanya menekankan bahwa kekalahan kandang melawan Sunderland “menyakitkan” dan “bergema”, serta ditanggapi dengan “serius”.
Kondisi ini semakin diperparah dengan catatan kekalahan agregat 8-3 melawan Barcelona di Liga Champions dan tren performa di Premier League yang membuat Newcastle terancam finis di posisi ke-12. Menanggapi situasi ini, Eddie Howe sendiri mengakui mengalami “sleepless nights” atau malam tanpa tidur. Ia dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan penting dengan kepemilikan mayoritas klub asal Arab Saudi di Matfen Hall hotel, Northumberland, pada bulan berikutnya.
