Iran dilaporkan kembali berhasil mengelabui sanksi Amerika Serikat dengan terus memperdagangkan minyaknya secara diam-diam ke China. Aktivitas ini dilakukan melalui kapal tanker yang mematikan sistem pelacakan otomatis (Automatic Identification System/AIS) saat melintas di jalur pelayaran strategis.
Teknik ini memungkinkan kapal tanker Iran untuk melakukan transfer minyak mentah ke kapal-kapal China tanpa terdeteksi. Jalur yang kerap digunakan berada di sekitar EOPL (East of Pulau Laut) Malaysia, sebuah area yang berdekatan dengan perairan Indonesia, mengindikasikan potensi aktivitas ini semakin dekat dengan wilayah kedaulatan Tanah Air.
Sumber intelijen maritim mengungkap bahwa Iran telah lama menerapkan strategi ini untuk tetap mendapatkan pemasukan dari ekspor minyaknya, di tengah tekanan sanksi yang diberlakukan oleh pemerintahan mantan Presiden AS Donald Trump. Meskipun Trump telah meninggalkan jabatannya, praktik ini tampaknya masih terus berlanjut, menunjukkan ketangguhan Iran dalam menghadapi embargo.
“Kapal-kapal tanker Iran yang membawa minyak mentah ke China telah berulang kali terlihat mematikan sistem AIS mereka saat berada di perairan internasional dekat Malaysia,” ujar seorang pejabat intelijen maritim yang tidak ingin disebutkan namanya, sebagaimana dikutip dari laporan awal. Tindakan mematikan AIS ini merupakan indikasi kuat adanya upaya penyembunyian aktivitas bongkar muat minyak.
Dengan mematikan AIS, kapal-kapal tersebut secara efektif menghilang dari radar publik dan sistem pelacakan global. Hal ini mempersulit upaya pemantauan oleh pihak berwenang AS maupun pihak lain yang berkepentingan untuk menegakkan sanksi. Lokasi transfer minyak yang dekat dengan EOPL Malaysia juga menimbulkan kekhawatiran tersendiri, mengingat kedekatannya dengan jalur pelayaran internasional yang sibuk dan berpotensi melintasi atau mendekati Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia.
Praktik ini bukan hal baru. Sejak sanksi AS diberlakukan, Iran telah mencari berbagai cara kreatif untuk tetap mengekspor minyaknya. Salah satu metode yang paling umum adalah melalui pengiriman minyak mentah dari kapal ke kapal (ship-to-ship transfer) di tengah laut. Namun, dengan mematikan AIS, identitas kapal dan muatannya menjadi sangat sulit dilacak.
Seorang analis energi independen menilai bahwa keberhasilan Iran dalam menjaga aliran ekspor minyaknya melalui jalur-jalur terselubung ini menunjukkan adanya celah signifikan dalam penegakan sanksi internasional. “Ini adalah permainan kucing-kucingan yang terus berlanjut. Iran terus berinovasi dalam metode penyaluran minyaknya, sementara lembaga intelijen terus berusaha mendeteksinya,” jelas analis tersebut.
Meskipun detail mengenai volume minyak yang ditransfer atau frekuensi pastinya tidak dirinci, keberlangsungan aktivitas ini menggarisbawahi bahwa Iran belum menyerah dalam menghadapi tekanan ekonomi. Keberadaan aktivitas ini di dekat perairan Indonesia juga menjadi catatan penting bagi otoritas maritim nasional untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan di wilayah perbatasan.
