Dunia musik hip-hop Amerika Serikat tengah berduka menyusul kabar ditemukannya produser musik ternama peraih nominasi Grammy, Brytavious Chambers, yang lebih dikenal dengan nama Tay Keith, dalam keadaan meninggal dunia di apartemennya di kawasan Martin Street, Nashville. Penemuan tragis ini terjadi pada Kamis sore waktu setempat, mengakhiri hidup seorang musisi berbakat di usia muda, 29 tahun.
Kepolisian Metro Nashville mengonfirmasi bahwa jenazah Tay Keith pertama kali ditemukan oleh petugas yang sedang melakukan pemeriksaan kesejahteraan (welfare check). Hingga saat ini, pihak berwenang menyatakan tidak ada indikasi kekerasan yang ditemukan di lokasi kejadian. Penyebab pasti kematian sang produser masih belum dapat dipastikan dan masih menunggu hasil otopsi resmi yang akan segera dirilis. Pernyataan dari Kepolisian Metro Nashville menegaskan, "No foul play is suspected," yang berarti tidak ada kecurigaan adanya unsur kejahatan dalam kasus ini.
Kabar duka ini sontak menyebar dan memicu gelombang kesedihan mendalam di kalangan musisi, produser, dan penggemar musik hip-hop. Tay Keith dikenal sebagai sosok krusial di balik sejumlah lagu hits yang mendominasi tangga lagu global. Karyanya yang paling ikonik termasuk produksi lagu "Sicko Mode" yang dibawakan oleh Travis Scott dan "Look Alive" yang dinyanyikan oleh Drake. Kepergiannya meninggalkan kekosongan yang signifikan dalam lanskap produksi musik kontemporer.
Pemuda kelahiran Memphis ini tidak hanya dikenal karena bakatnya di balik meja rekaman, tetapi juga karena dedikasinya yang luar biasa terhadap pendidikan. Tay Keith berhasil menyelesaikan pendidikannya di Middle Tennessee State University (MTSU) pada Desember 2018, sebuah pencapaian yang diraihnya tepat di saat karier musiknya mulai meroket. Ia kerap menekankan pentingnya menyelesaikan pendidikan, bahkan di tengah kesibukan kariernya yang padat.
"Tidak ada gunanya saya datang ke kampus jika saya tidak ingin menyelesaikannya – saya bisa saja fokus 100% pada musik," ujar Tay Keith dalam sebuah kutipan yang mencerminkan prinsipnya. "Pada minggu terakhir kuliah saya, saya memiliki single nomor 1 pertama saya, jadi tidak masuk akal untuk putus kuliah."
Komitmen ganda antara pendidikan dan musik seringkali mengharuskannya menjalani jadwal yang sangat menuntut. Ia tak jarang harus terbang dari satu kota ke kota lain demi memenuhi jadwal konser atau rekaman, kemudian langsung kembali ke kampus untuk mengikuti perkuliahan atau ujian. "Saya ingat harus terbang dari New York, dan saya punya ujian di hari yang sama," kenangnya. "Jadi, saya terbang kembali dari New York pagi itu, pulang, lalu langsung ke kelas. Itu gila. Tapi jika saya tahu saya bisa melakukan itu, maka tidak ada yang bisa menghentikan saya selain diri saya sendiri."
Prestasi Tay Keith di industri musik memang tak main-main. Namanya masuk dalam daftar bergengsi Forbes 30 Under 30 Music pada tahun 2025, sejajar dengan rekan labelnya di Drumatized, Cambrian Strong. Penghargaan ini menambah daftar panjang pencapaiannya, setelah sebelumnya dinobatkan sebagai produser terbaik di BMI Awards 2024. Forbes menyoroti kontribusinya yang signifikan, menyatakan, "Pada usia 23 tahun, Tay Keith menjadi produser nominasi Grammy berkat karyanya pada ‘Sicko Mode’ milik Travis Scott, menambah daftar kliennya seperti Cardi B, Eminem, dan ‘Queen B’ Beyoncé."
Selain bekerja dengan nama-nama besar di industri musik, Tay Keith juga memiliki kejelian dalam mengidentifikasi dan mengembangkan bakat-bakat baru. Salah satu contoh terbarunya adalah kolaborasinya dengan Sexyy Red dalam lagu "Pound Town" yang dirilis pada tahun 2023. Lagu ini sempat menuai beragam reaksi dan kritik di awal perilisannya. Namun, Tay Keith tetap teguh pada keyakinannya. "Orang-orang menghina saya habis-habisan," ungkapnya kepada Billboard. "Tidak banyak umpan balik yang bagus. Bahkan datang dari orang-orang di sekitar saya, ‘Apa yang kamu lakukan?’ Saya melihat potensinya. Sesederhana itu, saya percaya padanya."
Perjalanan karier Tay Keith dimulai sejak usia remaja, memanfaatkan peralatan sederhana seperti mikrofon dan komputer untuk menciptakan karya. Titik baliknya terjadi pada tahun 2015 ketika ia berhasil menembus industri musik mainstream melalui mixtape "Fuck Everybody" dari Black Youngsta. "Saya selalu tahu musik akan menjadi pelampiasan saya," jelas Tay Keith kepada Fader. "Saya hanya tidak tahu kapan, atau bagaimana itu akan terjadi."
Kepergian Tay Keith meninggalkan duka yang mendalam bagi rekan-rekan sejawat dan kolaborator lamanya. Rapper BlocBoy JB menjadi salah satu orang pertama yang memicu rumor kematian ini melalui unggahan di media sosial, mengungkapkan rasa kehilangan yang mendalam. "Ya Tuhan, kamu benar-benar menyakitiku," tulis BlocBoy JB. "Kita bicara setiap hari."
Senada dengan itu, sesama produser asal Memphis, Hitkidd, yang telah bekerja sama dengan mendiang selama lebih dari satu dekade, juga menyampaikan kesedihannya. "Saya bahkan tidak punya kata-kata, kita sudah melakukan ini sejak 2010," tuturnya, menggarisbawahi panjangnya persahabatan dan kolaborasi profesional mereka. Kehilangan ini menjadi pukulan berat bagi komunitas musik yang kehilangan salah satu talenta paling menjanjikan di generasinya.











