Siapa yang tidak suka pisang dalam smoothie? Buah ini tidak hanya memberikan rasa manis alami, tetapi juga menyempurnakan tekstur minuman. Namun, keyakinan bahwa pisang dapat merusak nutrisi dalam smoothie, khususnya dari buah beri seperti blueberry, ternyata adalah kesalahpahaman yang berkembang luas.
Kekhawatiran ini muncul setelah sebuah studi yang diterbitkan pada tahun 2023 di jurnal Food & Function menemukan bahwa pisang dapat mengurangi ketersediaan hayati flavon-3-ols dalam smoothie. Meskipun studi tersebut valid, interpretasi yang beredar di media sosial, termasuk beberapa cuplikan TikTok, cenderung melebih-lebihkan kesimpulan para ilmuwan.
Sebenarnya, studi tersebut tidak menyimpulkan bahwa pisang harus dihindari sama sekali dalam smoothie. Pernyataan pers yang mengumumkan studi tersebut bahkan mengutip penulis utama, Javier Ottaviani, yang mengatakan, “pisang tetap menjadi buah yang hebat untuk dimakan atau dikonsumsi dalam smoothie.” Kesalahpahaman ini kemungkinan besar dipicu oleh rilis pers yang menyebut penambahan pisang ke dalam smoothie sebagai sebuah “kesalahan”, namun detail lengkap studi menunjukkan bahwa peringatan tentang pisang tersebut sangat dibesar-besarkan.
Studi yang dimaksud tidak berfokus pada nilai gizi pisang atau smoothie secara umum. Penelitian ini secara spesifik menguji interaksi antara enzim dalam pisang, yaitu polyphenol oxidase (PPO), dengan satu jenis antioksidan tertentu yang ditemukan dalam ekstrak kakao, yaitu (-)-epicatechin, yang merupakan bagian dari keluarga flavon-3-ols. Penting dicatat, studi ini tidak menguji polyphenols dari blueberry, yang menjadi fokus kekhawatiran Rhonda Patrick.
Dalam eksperimennya, delapan pria sehat mengonsumsi tiga jenis minuman berbeda: smoothie pisang dengan ekstrak kakao, smoothie campuran buah beri dengan ekstrak kakao, dan kapsul ekstrak kakao dengan susu. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah mengonsumsi smoothie pisang, kadar epicatechins dalam darah tidak meningkat, berbeda dengan konsumsi smoothie buah beri atau kapsul ekstrak kakao. Hal ini mengindikasikan bahwa PPO dalam pisang memang dapat mengurangi jumlah epicatechins dari ekstrak kakao yang diserap tubuh.
Namun, studi ini memiliki keterbatasan penting. Studi tersebut tidak pernah menguji kombinasi buah beri dan pisang. Eksperimen hanya membandingkan efek pisang pada ekstrak kakao, dan efek buah beri pada ekstrak kakao, tanpa mencampurnya. Oleh karena itu, tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa pisang dalam smoothie buah beri “menghancurkan” atau “merusak” nutrisi atau antioksidan dari buah beri.
Lebih lanjut, istilah “menghancurkan nutrisi” perlu diklarifikasi. Pisang sendiri kaya akan serat, karbohidrat, vitamin B6 (20% kebutuhan harian), vitamin C (17%), dan magnesium (8%). Manfaat-manfaat ini tidak hilang hanya karena interaksi kimiawi spesifik yang terjadi pada flavon-3-ols dari kakao. Jika tujuan utama Anda mengonsumsi smoothie adalah untuk mendapatkan asupan buah-buahan dan energi, pisang tetap memberikan kontribusi nutrisi yang signifikan.
Bagi mereka yang benar-benar ingin memaksimalkan asupan flavon-3-ols, ada cara yang lebih efektif. Pedoman dari Academy of Nutrition and Dietetics (AND) merekomendasikan konsumsi setidaknya 400 miligram flavon-3-ols per hari. Rekomendasi ini dapat dicapai dengan mudah melalui 10 ons teh hijau atau 12 ons teh hitam. Dibandingkan dengan buah beri, jumlah flavon-3-ols dalam teh jauh lebih tinggi. AND juga menyarankan untuk tidak mendapatkan nutrisi ini dari suplemen, karena ekstrak teh hijau dalam dosis besar dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan bahkan toksisitas hati.
