Perhatian publik tertuju pada Kamari Sky Wassink, balita berusia dua tahun yang mencuri hati banyak orang saat tampil begitu anteng dan tenang dalam prosesi masuk ke acara pernikahan ibunya, Jennifer Coppen, dengan Justin Hubner. Sikapnya yang luar biasa kalem di tengah keramaian menjadi sorotan utama, memicu rasa penasaran orang tua mengenai bagaimana cara mengasuh anak agar memiliki ketenangan serupa.
Meskipun ketenangan anak dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk temperamen bawaan dan lingkungan, para ahli menekankan bahwa pola makan dan rutinitas harian memegang peranan penting dalam membantu anak belajar mengenali serta mengatur emosi mereka. Tantrum, yang kerap menjadi momok bagi orang tua, sejatinya merupakan bagian normal dari perkembangan emosi balita yang belum sepenuhnya mampu mengelola rasa frustrasi, lapar, lelah, atau ketidaknyamanan layaknya orang dewasa.
Salah satu pilar penting dalam membangun fondasi emosi anak yang stabil adalah memperhatikan asupan nutrisinya sejak dini. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan untuk menghindari pemberian gula tambahan pada anak di bawah usia dua tahun. Rekomendasi ini tidak semata-mata bertujuan agar anak lebih tenang, tetapi juga karena kebutuhan gizi anak pada usia tersebut sangat tinggi, sementara kapasitas asupan kalorinya masih terbatas.
Lebih jauh, berbagai penelitian yang dipublikasikan di PubMed mengindikasikan adanya korelasi antara konsumsi gula bebas dalam jumlah tinggi pada balita dengan gangguan tidur, gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), serta kecemasan. Kondisi seperti kurang tidur atau mudah gelisah secara inheren dapat mengganggu kemampuan anak dalam mengatur emosi, meskipun gula bukanlah penyebab langsung dari ledakan tantrum.
Selain membatasi gula tambahan, mengutamakan "real food" atau makanan utuh dan membatasi konsumsi makanan ultra-proses juga menjadi kunci. Real food merujuk pada bahan pangan yang minim pengolahan, seperti nasi, kentang, ubi, telur, ikan, ayam, tahu, tempe, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan yang disesuaikan dengan usia anak. Jenis makanan ini tidak hanya memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara utuh, tetapi juga membantu mereka mengenal rasa alami berbagai bahan pangan.
Sebaliknya, makanan ultra-proses, yang meliputi camilan kemasan, minuman manis, sereal manis, makanan cepat saji, dan produk instan lainnya, umumnya kaya akan gula, garam, lemak, pewarna, serta perisa buatan. Sebuah studi yang diterbitkan dalam JAMA Network Open menemukan adanya keterkaitan antara konsumsi makanan ultra-proses pada usia tiga tahun dengan pola perilaku anak saat menginjak usia lima tahun. Oleh karena itu, membatasi makanan ultra-proses sejak dini tidak hanya krusial untuk menjaga berat badan dan kesehatan gigi, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan pola makan yang lebih sehat secara keseluruhan.
Tak kalah pentingnya adalah menjaga konsistensi jadwal makan dan tidur anak. Anak cenderung lebih rentan rewel atau mengalami tantrum ketika mereka lapar, kelelahan, atau terlalu banyak terpapar rangsangan. Perilaku yang seringkali dianggap "rewel" ini sejatinya bisa menjadi sinyal bahwa anak membutuhkan asupan nutrisi, istirahat, atau lingkungan yang lebih tenang.
Jadwal makan dan tidur yang relatif konsisten dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak, membantu mereka memahami ritme harian. Ketika anak mengetahui kapan waktu makan, tidur, bermain, mandi, atau berhenti menggunakan gawai, mereka akan lebih mudah beradaptasi. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa pola tidur malam pada anak prasekolah dipengaruhi oleh berbagai faktor gaya hidup, termasuk pola makan yang tinggi makanan olahan dan cepat saji sejak usia dua tahun, menggarisbawahi hubungan timbal balik antara pola makan dan kualitas tidur.
Membangun rutinitas yang mudah diprediksi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap ketenangan anak. Anak-anak umumnya merasa lebih nyaman ketika mereka memiliki gambaran jelas mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Rutinitas sederhana, seperti bangun pagi, sarapan, bermain, tidur siang, makan malam, dan tidur malam pada jam yang relatif sama, membantu mereka memahami alur aktivitas sehari-hari.
Studi mengenai "Routines and Child Development" mengungkapkan bahwa rutinitas keluarga berkorelasi positif dengan berbagai capaian anak, mulai dari kemampuan regulasi diri, perkembangan sosial-emosional, prestasi akademik, hingga kesehatan mental dan fisik. Penting untuk dicatat bahwa rutinitas tidak harus dijalankan secara kaku. Yang terpenting adalah adanya pola yang cukup stabil sehingga anak tidak terus-menerus dihadapkan pada perubahan mendadak yang dapat memicu stres atau ketidaknyamanan.
Meskipun pola makan sehat dan tidur yang cukup dapat meminimalkan frekuensi tantrum, hal tersebut tidak serta-merta membuat anak sepenuhnya bebas dari ledakan emosi. Ketika tantrum terjadi, respons orang tua menjadi faktor krusial yang membantu anak belajar memahami emosinya. Anak belajar mengelola emosi dari cara orang tua menyikapi situasi sulit. Jika orang tua ikut berteriak, mengancam, atau mempermalukan anak, ledakan emosi bisa semakin membesar. Sebaliknya, respons yang tenang dari orang tua dapat menciptakan rasa aman pada anak dan secara perlahan membimbing mereka untuk menenangkan diri.
Pada akhirnya, anak yang tenang seperti Kamari bukanlah hasil dari satu aturan tunggal. Kombinasi dari asupan bernutrisi, tidur yang berkualitas, rutinitas yang teratur, serta cara orang tua mendampingi anak dalam menghadapi emosi setiap hari, menjadi fondasi penting dalam membangun regulasi emosi yang kuat. Ini adalah sebuah proses berkelanjutan yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi dari para pengasuh.











