Sebuah terobosan signifikan hadir dalam pengelolaan sampah plastik, mengubah persepsi limbah yang selama ini dianggap tak bernilai menjadi sumber daya energi berharga. Kini, sampah plastik tidak hanya didaur ulang, melainkan dapat diolah menjadi bahan bakar setara solar premium.
Penelitian yang dilakukan oleh Tim Riset dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya berhasil menciptakan metode revolusioner untuk mengkonversi sampah plastik menjadi bahan bakar cair. Inisiatif ini tidak hanya menjawab tantangan lingkungan akibat penumpukan sampah plastik, tetapi juga membuka peluang energi alternatif yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Proses inovatif ini memanfaatkan sampah plastik jenis Polyethylene Terephthalate (PET) dan Polypropylene (PP). Kedua jenis plastik ini, yang umum ditemukan pada kemasan botol minuman dan berbagai produk rumah tangga, menjadi bahan baku utama dalam konversi ini. Tim riset berhasil mengoptimalkan teknik pirolisis, sebuah metode pemanasan tanpa oksigen, untuk memecah rantai molekul panjang plastik menjadi molekul yang lebih pendek dan stabil, layaknya komponen bahan bakar fosil.
“Kami berhasil mengoptimalkan proses pirolisis agar sampah plastik bisa terurai menjadi bahan bakar cair yang memiliki kualitas setara dengan solar,” ujar Prof. Dr. Ir. I Ketut Sudarsana, ST., MT., IPM., selaku Ketua Tim Riset. Ia menambahkan bahwa kualitas bahan bakar yang dihasilkan telah diuji dan memenuhi standar kelayakan, bahkan memiliki nilai oktan yang baik.
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa bahan bakar yang dihasilkan memiliki angka oktan yang sangat baik, bahkan melebihi standar yang ditetapkan. Hal ini membuktikan bahwa sampah plastik dapat bertransformasi menjadi sumber energi yang tidak hanya efektif tetapi juga ramah lingkungan jika dikelola dengan tepat. Keberhasilan ini membuka jalan bagi solusi pengelolaan sampah yang lebih komprehensif dan bernilai ekonomis.
Lebih lanjut, Prof. Sudarsana menjelaskan bahwa proses konversi ini dapat menghasilkan bahan bakar cair yang memiliki nilai kalor dan angka oktan yang setara dengan solar premium. “Dalam proses pirolisis, sampah plastik dipanaskan hingga suhu 300-400 derajat Celsius tanpa adanya oksigen. Proses ini akan memecah polimer panjang menjadi molekul hidrokarbon yang lebih pendek, menghasilkan bahan bakar cair,” jelasnya.
Potensi pemanfaatan hasil konversi ini sangat luas, mulai dari penggunaan sebagai bahan bakar pada mesin diesel hingga sebagai bahan baku industri kimia. Dengan adanya inovasi ini, sampah plastik yang sebelumnya menjadi momok lingkungan kini berpotensi besar untuk menjadi solusi energi terbarukan yang lebih efisien dan ekonomis di masa depan.
