Presiden Amerika Serikat Donald Trump melancarkan penyelidikan terhadap Uni Eropa menyusul keputusan denda sebesar 1,3 miliar euro atau setara Rp 17 triliun yang dijatuhkan kepada raksasa teknologi Google. Keputusan ini, menurut Trump, merupakan tindakan perampokan oleh sekutu sendiri.
Trump, yang kerap menyuarakan ketidakpuasan terhadap praktik perdagangan Uni Eropa, menganggap denda tersebut tidak adil dan merupakan upaya untuk merugikan perusahaan Amerika. “Mereka seharusnya tidak melakukan itu,” ujar Trump dalam sebuah konferensi pers di Gedung Putih pada hari Kamis (25/7/2019).
Penyelidikan yang diperintahkan Trump ini akan difokuskan untuk meninjau apakah tindakan Uni Eropa tersebut melanggar hukum perdagangan internasional. Ia mengindikasikan bahwa Amerika Serikat akan mengambil tindakan balasan jika terbukti ada ketidakadilan dalam kasus ini. “Kami akan menyelidiki apa yang mereka lakukan. Ini adalah pengkhianatan,” tegasnya.
Keputusan denda terhadap Google oleh Komisi Eropa pada tahun 2018 lalu didasarkan pada temuan bahwa perusahaan tersebut menyalahgunakan posisi dominannya di pasar dengan mempromosikan produk perbandingan belanjaannya sendiri di hasil pencariannya, serta membatasi penggunaan produk pesaing. Denda ini merupakan yang terbesar yang pernah dijatuhkan oleh Uni Eropa untuk kasus antimonopoli.
Google sendiri telah mengajukan banding atas putusan tersebut. Juru bicara Google menyatakan, “Kami tidak setuju dengan keputusan Komisi Eropa dan kami sedang mengajukan banding. Kami percaya bahwa kami telah melakukan perubahan yang diperlukan, dan kami akan terus berdialog dengan Komisi.”
Langkah Trump untuk menyelidiki Uni Eropa menambah ketegangan dalam hubungan dagang antara Amerika Serikat dan blok Eropa yang sudah memanas. Sebelumnya, Trump juga telah mengancam akan memberlakukan tarif pada mobil-mobil Eropa sebagai respons terhadap apa yang ia anggap sebagai hambatan perdagangan yang tidak adil.
Para analis melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi Trump untuk ‘America First’, yang bertujuan melindungi kepentingan ekonomi Amerika di mata global, meskipun berisiko menimbulkan friksi dengan sekutu tradisional.
