Uni Emirat Arab (UEA) meluncurkan rencana ambisius untuk sepenuhnya mengakhiri ketergantungan jalur pelayaran energinya pada Selat Hormuz. Langkah strategis ini diambil menyusul kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat dan Iran, yang diumumkan pada Rabu, 17 Juni 2026. Strategi utama UEA berpusat pada ekspansi besar-besaran pelabuhan di pesisir timur, yang berada di luar Selat Hormuz, tepatnya di sepanjang Teluk Oman.
Keputusan ini muncul setelah penutupan efektif Selat Hormuz sejak Februari 2026, akibat eskalasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Penutupan jalur vital ini telah menimbulkan gangguan signifikan terhadap pasokan komoditas global, termasuk minyak mentah, pupuk, helium, dan aluminium. Menteri Perdagangan Luar Negeri UEA, Thani Al Zeyoudi, menegaskan komitmen negaranya untuk mencapai nol ketergantungan pada Hormuz, terlepas dari status operasional selat tersebut.
Proyek infrastruktur ini mencakup perluasan kapasitas Pelabuhan Dibba, Fujairah, dan Khor Fakkan. Lebih lanjut, UEA juga merencanakan pembangunan sebuah pelabuhan baru di wilayah garis pantai yang sama. "Jalur tersebut akan dibuka dan kami berharap itu akan terjadi dengan cepat, tetapi kami tidak akan menghentikan rencana baru ini," ujar Al Zeyoudi, menggarisbawahi determinasi UEA dalam mengamankan rantai pasokannya.
Untuk memastikan konektivitas yang mulus antara pelabuhan-pelabuhan timur dengan sumber daya energi domestik, UEA mengalokasikan investasi substansial untuk pengembangan jaringan kereta api, jalan raya, dan pipa penyalur baru. "Arahnya sudah ada, kami sedang melakukan studi kelayakan untuk melanjutkannya," tambah Al Zeyoudi.
Langkah UEA ini juga mencakup percepatan pembangunan jalur pipa kedua untuk menggandakan ekspor minyak mentah melalui Fujairah, sebuah inisiatif yang telah diumumkan pada pertengahan Mei lalu. Selain itu, opsi pembangunan jalur pipa ketiga kini tengah dikaji secara mendalam. "Selama masa-masa sulit itu, Anda selalu mengidentifikasi kekurangan Anda dan mulai mengerjakannya," jelas Al Zeyoudi.
Selat Hormuz secara historis memegang peranan krusial sebagai jalur pelayaran bagi sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Penutupannya telah memicu lonjakan inflasi global yang signifikan. Meskipun pengalihan ekspor minyak mentah ke pelabuhan timur dapat relatif diakomodasi oleh infrastruktur pipa yang ada, UEA menghadapi tantangan besar dalam memindahkan komoditas lain seperti LNG dan aluminium. Selain itu, kota-kota besar seperti Dubai dan Abu Dhabi masih sangat bergantung pada Pelabuhan Jebel Ali untuk sektor impor barang.
Implikasi dari strategi UEA ini melampaui sekadar keamanan energi. Diversifikasi jalur logistik akan memperkuat posisi UEA sebagai pusat perdagangan dan distribusi regional, mengurangi kerentanan terhadap gejolak geopolitik di Teluk Persia. Pembangunan infrastruktur pendukung, seperti jaringan transportasi multimoda, juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan menciptakan lapangan kerja baru.
Konteks penutupan Selat Hormuz sendiri berakar pada ketegangan geopolitik yang meningkat di kawasan tersebut. Selat ini, yang memisahkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, merupakan salah satu jalur air tersibuk di dunia. Setiap gangguan di sana memiliki efek domino yang meluas ke pasar energi global. Dengan menargetkan nol ketergantungan, UEA secara proaktif memitigasi risiko tersebut dan memperkuat ketahanan ekonominya.
Investasi dalam infrastruktur pelabuhan di pesisir timur juga sejalan dengan visi jangka panjang UEA untuk menjadi hub logistik global. Pelabuhan-pelabuhan seperti Fujairah memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi pusat distribusi internasional, melayani pasar di Asia, Afrika, dan Eropa. Pengembangan ini tidak hanya tentang minyak dan gas, tetapi juga tentang memfasilitasi aliran barang dan jasa secara keseluruhan.
Dampak dari strategi ini juga akan dirasakan oleh negara-negara lain yang bergantung pada jalur pelayaran melalui Selat Hormuz. Dengan adanya alternatif yang lebih aman dan andal dari UEA, potensi gangguan pasokan global dapat diminimalisir di masa depan. UEA menempatkan dirinya sebagai pemain kunci dalam menjaga stabilitas pasokan energi dan komoditas dunia, bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik.
Perkembangan studi kelayakan untuk jaringan transportasi darat dan pipa baru akan menjadi indikator penting kemajuan strategi ini. Kesuksesan UEA dalam merealisasikan rencana ini akan menjadi tolok ukur baru dalam manajemen risiko rantai pasok global, terutama di sektor energi dan komoditas vital. Keberanian UEA untuk berinvestasi besar dalam diversifikasi jalur logistik menunjukkan pandangan strategis jangka panjang yang matang, memastikan kelangsungan ekonomi di tengah dinamika regional yang kompleks.











