7 Kebiasaan Sehari-hari yang Diam-diam Mengintai Risiko Kanker

Heni Maulidya

Jakarta – Kanker, penyakit kompleks yang menakutkan, tidak serta-merta muncul tanpa sebab. Di balik diagnosisnya, terdapat benang merah yang menghubungkan berbagai faktor, mulai dari warisan genetik, pertambahan usia, pengaruh lingkungan, hingga pilihan gaya hidup yang kita jalani setiap hari. Studi terbaru mengindikasikan bahwa sebagian besar kasus kanker, bahkan kematian akibatnya, dapat dikaitkan dengan kebiasaan dan kondisi yang sebenarnya dapat diubah oleh individu.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal bergengsi A Cancer Journal for Clinicians mengungkap fakta mengejutkan. Sekitar 40 persen kasus kanker dan hampir separuh angka kematian akibat kanker pada populasi dewasa usia 30 tahun ke atas di Amerika Serikat, ternyata berkaitan erat dengan kebiasaan serta kondisi yang sesungguhnya dapat dimodifikasi. Ini menunjukkan bahwa perubahan gaya hidup sederhana berpotensi besar dalam menekan angka kejadian kanker di masa depan.

Mulai dari pilihan makanan hingga pola istirahat, beberapa aktivitas yang seringkali dianggap remeh, jika dilakukan secara konsisten dalam jangka panjang, dapat menjadi pemicu peningkatan risiko penyakit ganas ini. Memahami dan menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi langkah krusial dalam upaya menjaga kesehatan dan mencegah potensi ancaman kanker.

Salah satu kebiasaan yang perlu diwaspadai adalah konsumsi daging olahan secara berlebihan. Makanan praktis seperti sosis, kornet, nugget, atau daging asap memang menawarkan kemudahan dalam pengolahan dan cita rasa yang menggugah selera. Namun, di balik kepraktisannya, International Agency for Research on Cancer (IARC) mengklasifikasikan daging olahan sebagai karsinogenik bagi manusia. Bukti ilmiah menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi rutin daging olahan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal, sementara potensi kaitannya dengan kanker lambung masih dalam penelitian lebih lanjut.

Selanjutnya, gaya hidup sedentari atau kurang gerak menjadi ancaman serius lainnya. Menghabiskan berjam-jam duduk di depan layar komputer, bermalas-malasan di sofa, atau jarang melakukan aktivitas fisik mungkin terasa seperti hal lumrah. Padahal, tubuh membutuhkan pergerakan untuk menjaga metabolisme, mengontrol berat badan, dan memastikan seluruh sistem tubuh berfungsi optimal. Sebuah studi yang diterbitkan dalam European Journal of Epidemiology menemukan korelasi antara kebiasaan duduk terlalu lama dan minimnya aktivitas fisik dengan peningkatan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker usus besar, payudara, prostat, dan rektum.

Paparan asap rokok, bahkan bagi bukan perokok, tetap merupakan risiko signifikan. Tidak merokok secara langsung memang mengurangi risiko, namun terpapar asap rokok dari orang lain secara terus-menerus, baik di lingkungan rumah, kendaraan, tempat kerja, maupun ruang publik, juga membahayakan. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) mencatat bahwa hampir 9 dari 10 kasus kematian akibat kanker paru berkaitan dengan kebiasaan merokok atau paparan asap rokok pasif.

Di negara tropis seperti Indonesia, paparan sinar matahari seringkali dianggap sebagai hal biasa. Namun, paparan sinar ultraviolet (UV) yang berlebihan dalam jangka panjang dapat merusak sel-sel kulit dan secara signifikan meningkatkan risiko kanker kulit. Data menunjukkan bahwa satu dari tiga kasus kanker yang terdiagnosis adalah kanker kulit, dengan radiasi UV sebagai salah satu faktor penyebab utamanya. Penggunaan pelindung matahari dan membatasi paparan langsung saat intensitas UV tinggi menjadi langkah pencegahan yang vital.

Mengabaikan berat badan berlebih juga menjadi faktor risiko yang seringkali diremehkan. Kelebihan berat badan dan obesitas tidak hanya memengaruhi penampilan fisik, tetapi juga berkaitan erat dengan peningkatan risiko berbagai penyakit, termasuk sejumlah jenis kanker. Di Amerika Serikat, kanker yang terkait dengan obesitas bahkan mencakup sekitar 40 persen dari total kasus kanker yang didiagnosis setiap tahunnya. Lebih dari 13 jenis kanker telah dikaitkan dengan kondisi kelebihan berat badan dan obesitas.

Selain itu, mengabaikan vaksinasi HPV dan skrining kesehatan juga dapat menjadi bumerang. Infeksi Human Papillomavirus (HPV) seringkali tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga banyak orang tidak menyadari bahwa infeksi ini dapat menetap dan berkembang menjadi risiko kanker tertentu. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa infeksi HPV risiko tinggi yang persisten merupakan penyebab utama kanker serviks. Virus ini juga diketahui berperan dalam perkembangan kanker vulva, vagina, mulut dan tenggorokan, penis, serta anus.

Terakhir, paparan polusi udara sehari-hari, terutama bagi mereka yang tinggal atau bekerja di perkotaan, perlu menjadi perhatian serius. Meskipun sulit dihindari sepenuhnya, paparan polusi udara dalam jangka panjang terbukti dapat menyebabkan kanker paru. Selain itu, penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara paparan polusi udara luar ruangan dengan peningkatan risiko kanker kandung kemih.

Penting untuk diingat bahwa kebiasaan-kebiasaan di atas tidak secara otomatis menjamin seseorang akan terkena kanker. Risiko kanker adalah hasil dari interaksi kompleks berbagai faktor yang bekerja dalam kurun waktu yang panjang. Namun, dengan mengadopsi langkah-langkah pencegahan sederhana dan konsisten dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat secara signifikan meningkatkan peluang tubuh untuk tetap sehat dan meminimalkan risiko terpaparnya penyakit mematikan ini. Perubahan gaya hidup kecil yang dilakukan secara rutin dapat memberikan dampak besar bagi kesehatan jangka panjang.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All