Panduan terbaru dari American Cancer Society (ACS) telah merevolusi cara skrining kanker kolorektal. Perubahan ini tidak hanya memperluas pilihan tes yang tersedia, tetapi juga memunculkan pertanyaan seputar peran tes non-invasif, kecerdasan buatan (AI), dan skrining berbasis risiko dalam melengkapi metode yang sudah ada.
Dalam pembaruan panduannya yang dirilis belum lama ini, ACS secara resmi memasukkan dua jenis tes tinja yang dapat dilakukan di rumah. Selain itu, sebuah rekomendasi terbatas juga ditambahkan untuk tes berbasis darah bagi pasien yang menolak bentuk skrining lainnya.
Perubahan ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan American College of Gastroenterology (ACG). ACG memperingatkan bahwa pedoman baru untuk tes berbasis darah berpotensi membingungkan pasien dan mengganggu kepatuhan terhadap prosedur skrining.
Dr. John Inadomi, Presiden ACG, menyatakan keprihatinannya. “Saya sangat khawatir bahwa ini akan membingungkan pasien,” katanya, merujuk pada penambahan tes berbasis darah. Ia menekankan perlunya kejelasan dalam komunikasi kepada publik. “Kami perlu memastikan bahwa kami tidak membingungkan pasien. Kami tidak ingin orang berpikir bahwa tes darah ini adalah pengganti yang setara dengan kolonoskopi.”
Panduan ACS yang baru ini mengakui kemajuan dalam teknologi skrining. Tes tinja baru yang direkomendasikan adalah SOFIT (Multi-Target Stool DNA Test) dan FIT (Fecal Immunochemical Test). Kedua tes ini menawarkan alternatif yang lebih nyaman dan non-invasif dibandingkan prosedur yang lebih invasif.
Selain tes tinja, AI juga diperkirakan akan memainkan peran yang semakin besar. Kemampuan AI untuk menganalisis gambar medis dan data pasien berpotensi meningkatkan akurasi diagnosis dan personalisasi pendekatan skrining. Meskipun belum menjadi bagian dari rekomendasi formal dalam panduan ini, integrasi AI dalam proses skrining diprediksi akan menjadi tren di masa depan.
ACS merekomendasikan skrining kanker kolorektal dimulai pada usia 45 tahun untuk individu dengan risiko rata-rata. Pilihan skrining yang direkomendasikan mencakup kolonoskopi setiap 10 tahun, sigmoidoskopi fleksibel setiap 5 tahun, CT colonography setiap 5 tahun, tes darah okultisme tinja (gFOBT) setiap tahun, tes immunochemical tinja (FIT) setiap tahun, tes DNA tinja multi-target (MT-sDNA) setiap 3 tahun, atau tes darah berbasis DNA (ctDNA) yang saat ini masih dalam tahap pengembangan dan evaluasi.
Pentingnya skrining dini dan teratur tetap ditekankan oleh ACS. Tujuannya adalah untuk mendeteksi kanker kolorektal pada tahap awal, ketika pengobatan paling efektif. Dengan adanya pilihan tes yang lebih beragam, diharapkan lebih banyak orang akan termotivasi untuk menjalani skrining, meskipun tantangan dalam edukasi dan kepatuhan pasien masih perlu diatasi.
