Saturday, 25 July 2026
BREAKING
LIFESTYLE

ChatGPT Health Is Rolling Out to Everyone, but I Don’t Trust It

Oleh Heni Maulidya July 25, 2026 2 hours lalu 0 komentar

{
“title”: “Keraguan Terhadap ChatGPT Health: Privasi Menurun, Klaim Kinerja Dipertanyakan”,
“content”: “

OpenAI secara resmi meluncurkan ChatGPT Health untuk seluruh pengguna berusia 18 tahun ke atas, terlepas dari paket berlangganan mereka, termasuk yang gratis. Namun, di balik pengumuman ini, muncul kekhawatiran serius terkait privasi dan keandalan saran medis yang diberikan oleh kecerdasan buatan ini.

ChatGPT Health memungkinkan pengguna menghubungkan rekam medis atau data Apple Health mereka. Meskipun OpenAI mengklaim akan meminta izin akses data kesehatan untuk setiap percakapan dan menegaskan bahwa layanan ini bukan pengganti dokter, melainkan alat bantu interpretasi data medis, keraguan tetap membayangi. Terlebih lagi, klaim OpenAI bahwa ChatGPT Health mendapatkan skor lebih tinggi dibandingkan dokter sungguhan dalam evaluasi HealthBench menimbulkan pertanyaan besar.

Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah penurunan tingkat privasi. Awalnya, OpenAI menjanjikan bahwa percakapan di ChatGPT Health tidak akan digunakan untuk pelatihan AI dan akan dipisahkan dari percakapan lainnya. Namun, ketentuan tersebut kini berubah. OpenAI menyatakan bahwa informasi kesehatan yang terhubung tidak akan digunakan untuk melatih AI, dan hanya percakapan yang melibatkan informasi terhubung tersebut yang dianggap sebagai percakapan Health. Ini berarti, untuk mendapatkan perlindungan privasi penuh, pengguna wajib membagikan data kesehatan mereka kepada OpenAI.

OpenAI mengklaim ChatGPT Health unggul dalam memberikan saran medis berdasarkan evaluasi HealthBench. Namun, para ahli berpendapat bahwa model bahasa besar (LLM) seperti ChatGPT belum dapat diandalkan untuk saran medis. Studi sebelumnya menunjukkan bahwa LLM seringkali memberikan jawaban yang tepat dalam skenario yang dikontrol ketat, namun cenderung melenceng dalam percakapan dunia nyata yang kompleks. Evaluasi HealthBench pun dikritik karena tidak mencerminkan percakapan medis sesungguhnya yang melibatkan nuansa bahasa, perubahan topik, dan kekhawatiran pasien yang tidak terduga. Pengujian yang hanya berfokus pada percakapan singkat juga dianggap tidak memadai untuk menilai kemampuan penanganan kasus jangka panjang atau kolaborasi antarprofesional medis.

Lebih mengkhawatirkan lagi, penggunaan ChatGPT untuk saran medis telah menimbulkan konsekuensi fatal. Belum lama ini, seorang pastor mengajukan gugatan terhadap OpenAI, mengklaim bahwa ia nyaris meninggal setelah meminta saran medis dari ChatGPT-4o terkait dugaan emboli paru. Gugatan ini menuntut OpenAI untuk menghentikan penawaran produk kesehatan seperti ChatGPT Health. Sebelumnya, OpenAI juga menghadapi tuduhan bahwa produk mereka berkontribusi terhadap kasus bunuh diri dan psikosis. Lembaga nirlaba keamanan medis, ECRI, bahkan menobatkan penyalahgunaan chatbot AI sebagai ancaman teknologi kesehatan nomor satu di tahun 2026.

Bagi pengguna yang tetap ingin mencoba ChatGPT Health, beberapa langkah dapat diambil untuk sedikit melindungi privasi. Menggunakan fitur obrolan sementara dapat mencegah percakapan diingat atau dipersonalisasi. Pengguna juga dapat meninjau dan mengedit data kesehatan yang diimpor sebelum dihubungkan. Selain itu, informasi kesehatan dapat diputus kapan saja melalui pengaturan, dengan janji penghapusan data dalam 30 hari. Pengguna juga bisa mengatur agar ChatGPT meminta izin setiap kali mengakses data kesehatan, alih-alih memberikan izin menyeluruh. Namun, OpenAI sendiri mengakui bahwa “safeguards” tambahan untuk berbagi data masih dalam tahap pengujian, mengindikasikan adanya potensi kebocoran informasi.


}

Bagikan: Facebook X WhatsApp