Waspadai 7 Gejala Diabetes Ini, Sering Terjadi pada Pria

Heni Maulidya

Jakarta, CNN Indonesia — Diabetes merupakan penyakit kronis yang dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia maupun jenis kelamin. Namun, sejumlah studi menunjukkan bahwa gejala diabetes pada pria seringkali berbeda dengan wanita, dan sebagian besar tidak disadari. Peningkatan kadar gula darah secara terus-menerus dapat merusak berbagai organ dan mengganggu fungsi tubuh. Oleh karena itu, mengenali tanda-tanda awal diabetes pada pria menjadi krusial untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

Penyakit diabetes, yang ditandai dengan ketidakmampuan tubuh memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif, telah menjadi isu kesehatan global. Resistensi insulin atau kekurangan produksi insulin menyebabkan glukosa menumpuk dalam darah, yang jika dibiarkan dalam jangka panjang dapat memicu serangkaian masalah kesehatan yang serius. Bagi pria, beberapa gejala spesifik mungkin muncul dan seringkali diabaikan, dianggap sebagai kelelahan biasa atau masalah lain yang tidak berkaitan.

Salah satu tanda paling umum diabetes pada pria adalah peningkatan frekuensi buang air kecil, terutama di malam hari. Kondisi ini dikenal sebagai nokturia, di mana tubuh berusaha keras mengeluarkan kelebihan gula melalui urine. Ketika ginjal kewalahan menyaring glukosa yang berlebihan dalam darah, sebagian akan dikeluarkan melalui urin, menarik lebih banyak cairan dari jaringan tubuh, sehingga menyebabkan rasa haus yang meningkat dan dorongan untuk buang air kecil lebih sering. Jika gejala ini muncul berulang kali tanpa sebab yang jelas, pemeriksaan kadar gula darah sangat disarankan.

Selain itu, rasa lelah yang berlebihan dan kehilangan energi secara drastis juga menjadi indikator penting. Ketika insulin tidak berfungsi optimal, sel-sel tubuh tidak dapat menyerap glukosa dari darah untuk dijadikan energi. Akibatnya, meskipun sudah cukup beristirahat, penderita diabetes akan merasa lesu, tidak bertenaga, dan kesulitan untuk berkonsentrasi dalam aktivitas sehari-hari. Kelelahan kronis ini seringkali disalahartikan sebagai kurang tidur atau stres, padahal bisa jadi merupakan sinyal dari kadar gula darah yang tidak terkontrol.

Penurunan berat badan yang signifikan tanpa disertai perubahan pola makan atau aktivitas fisik intensif juga patut diwaspadai. Dalam kondisi diabetes, ketika tubuh tidak dapat menggunakan glukosa sebagai sumber energi utama, ia akan mulai memecah cadangan lemak dan otot. Proses ini menyebabkan penurunan massa tubuh yang drastis dalam waktu relatif singkat. Perubahan metabolisme ini merupakan mekanisme kompensasi tubuh dalam menghadapi krisis energi akibat ketidakmampuan memanfaatkan gula darah.

Disfungsi ereksi atau impotensi menjadi salah satu gejala diabetes pada pria yang seringkali menimbulkan rasa malu dan enggan dibicarakan. Diabetes dapat merusak pembuluh darah kecil dan saraf yang vital untuk proses ereksi. Gangguan pada aliran darah ke penis dan kerusakan saraf otonom dapat menyebabkan kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi. Lebih dari separuh pria dengan diabetes dilaporkan mengalami masalah ini. Oleh karena itu, gangguan ereksi yang berulang sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai masalah seksual semata, tetapi juga sebagai potensi gejala awal diabetes.

Infeksi jamur pada area genital, seperti kandidiasis, juga lebih rentan terjadi pada pria penderita diabetes. Kadar gula darah yang tinggi menciptakan lingkungan yang subur bagi pertumbuhan jamur. Gejalanya meliputi kemerahan, rasa gatal yang parah, pembengkakan di area kepala penis, keluarnya cairan yang berbau tidak sedap, serta rasa nyeri saat berhubungan intim. Kondisi ini terjadi karena jamur, terutama Candida, berkembang biak dengan cepat pada substrat kaya gula.

Sensasi kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki, yang dikenal sebagai neuropati diabetik, merupakan komplikasi diabetes yang umum terjadi. Kerusakan saraf akibat paparan glukosa darah yang tinggi dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan sensori. Penderita mungkin merasakan sensasi seperti terbakar, tertusuk jarum, atau mati rasa yang dimulai dari ujung jari kaki dan tangan, lalu menjalar ke bagian tubuh yang lebih luas. Jika tidak ditangani, kondisi ini dapat memburuk dan memengaruhi kemampuan bergerak serta kualitas hidup secara keseluruhan.

Terakhir, penurunan massa otot juga menjadi salah satu tanda diabetes yang perlu diperhatikan. Tubuh penderita diabetes yang kekurangan energi dari glukosa akan terus-menerus memecah jaringan tubuh, termasuk otot, untuk memenuhi kebutuhan energi. Hal ini menyebabkan kekuatan otot berkurang, tubuh terasa lebih lemah, dan postur tubuh dapat berubah seiring waktu. Kehilangan massa otot ini tidak hanya memengaruhi kekuatan fisik, tetapi juga metabolisme tubuh secara keseluruhan.

Mengenali tanda-tanda ini sejak dini sangatlah penting. Jika beberapa gejala tersebut muncul secara bersamaan atau berlangsung dalam periode waktu yang lama, segera konsultasikan dengan dokter. Pemeriksaan kadar gula darah dapat memastikan diagnosis dan memungkinkan penanganan yang tepat waktu. Pengobatan dini diabetes tidak hanya mencegah perburukan penyakit, tetapi juga meminimalkan risiko komplikasi jangka panjang yang dapat mengancam kualitas hidup.

Para ahli menekankan bahwa gaya hidup sehat memainkan peran kunci dalam pencegahan dan pengelolaan diabetes. Menjaga pola makan seimbang, kaya serat, rendah gula dan lemak jenuh, serta rutin berolahraga dapat membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil. Bagi pria, kesadaran akan gejala-gejala spesifik diabetes ini dapat menjadi langkah awal yang krusial untuk mendapatkan penanganan medis yang dibutuhkan dan menjalani hidup yang lebih sehat.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All