Saturday, 18 July 2026
BREAKING
LIFESTYLE

Berapa Lama Manusia Bisa Bertahan Tanpa Tidur? Rekor Dunia dan Dampaknya

Oleh Heni Maulidya July 18, 2026 3 hours lalu 0 komentar

Berapa lama manusia bisa bertahan tanpa tidur? Rekor dunia yang tercatat, meskipun tidak lagi dipantau karena risiko kesehatan, menunjukkan batas ekstrem yang bisa dicapai. Randy Gardner, seorang remaja berusia 17 tahun pada tahun 1963, menjadi terkenal karena bertahan tanpa tidur selama 264 jam atau sekitar 11 hari demi proyek sains. Eksperimen ini didokumentasikan dengan baik dan menarik perhatian peneliti tidur.

Rekor Gardner kemudian dipecahkan oleh stuntman Robert McDonald pada tahun 1986, yang dilaporkan tidak tidur selama hampir 19 hari. Namun, Guinness Book of World Records menghentikan pencatatan rekor ini pada tahun 1997 karena menyadari bahaya ekstrem dari kurang tidur dan tidak ingin mendorong orang untuk memecahkannya.

Dampak dari kurang tidur ekstrem sangat serius. Para pemegang rekor sering melaporkan mual, iritabilitas, halusinasi, dan delusi. Roger Guy English, yang memecahkan rekor pada tahun 1974 tanpa stimulan selain kafein, mengalami halusinasi yang menetap bahkan setelah eksperimen selesai. Maureen Weston juga mengalami halusinasi selama periode kurang tidur, namun pulih setelah mendapatkan tidur yang cukup.

Menurut laporan StatPearls tentang kurang tidur kronis, kondisi ini dapat meningkatkan risiko kematian dan morbiditas, menurunkan kinerja dalam aktivitas sehari-hari yang berujung pada kecelakaan, menurunkan kualitas hidup, kesejahteraan keluarga, dan penggunaan layanan kesehatan. Laporan tersebut menegaskan bahwa hilangnya tidur memiliki efek mendalam pada kesehatan dan kesejahteraan manusia.

Dari perspektif militer, ‘deprivasi tidur total’ didefinisikan sebagai 24 jam tanpa tidur. Setiap 24 jam tanpa tidur diperkirakan menyebabkan penurunan 25-35% dalam kinerja tugas kognitif. Militer juga mengklasifikasikan ‘deprivasi tidur parsial’ sebagai kurang dari tujuh jam tidur per malam selama seminggu atau lebih. Kurang tidur dapat meningkatkan risiko cedera otak traumatis, kelelahan emosional, kecemasan, gejala PTSD, depresi, serta ideasi dan upaya bunuh diri.

Oleh karena itu, militer merekomendasikan anggota untuk mendapatkan delapan jam tidur setiap 24 jam jika memungkinkan. Jika tidak, strategi seperti ‘menyimpan’ tidur sebelum periode kurang tidur dan menyediakan waktu untuk tidur ‘pemulihan’ setelahnya sangat penting. Randy Gardner sendiri tidur selama 14 jam setelah eksperimennya.

Bagi individu yang mengalami kesulitan tidur kronis seperti insomnia, situasinya berbeda. Insomnia bisa disebabkan oleh berbagai faktor dan memerlukan evaluasi medis untuk mengidentifikasi penyebabnya. Penting untuk dicatat bahwa terkadang orang yang merasa tidak tidur sama sekali sebenarnya mengalami ‘mikrotidur’, yaitu episode tidur singkat yang tidak disadari, seperti yang diakui oleh Guinness Book of World Records sebagai salah satu alasan menghentikan rekor kurang tidur.

Spesialis tidur menyarankan untuk fokus pada relaksasi daripada mengkhawatirkan waktu tidur yang hilang, karena relaksasi dapat memicu tidur. Jika masalah kurang tidur terus berlanjut atau ada kekhawatiran lain terkait pola tidur, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait