Lebih dari Sekadar Tren: Dokter Ungkap Manfaat Komprehensif Lari bagi Kesehatan Fisik dan Mental

Heni Maulidya

Fenomena lari marak terlihat di berbagai sudut kota Indonesia, dari jalur car free day hingga taman kota. Banyak orang kini antusias mengenakan sepatu lari dan bergabung dengan komunitas, sebuah tren yang kerap disalahartikan sebagai sekadar fear of missing out (FOMO) atau ikut-ikutan. Namun, di balik euforia ini, para pakar kesehatan justru melihatnya sebagai perkembangan positif yang membawa segudang manfaat bagi masyarakat.

Data terbaru menunjukkan peningkatan signifikan partisipasi masyarakat dalam aktivitas luar ruang, termasuk lari. Sekitar 7 dari 10 masyarakat Indonesia kini mengintegrasikan lari dan aktivitas fisik sejenis ke dalam rutinitas harian mereka. Pertumbuhan ini juga turut mendongkrak eksistensi komunitas lari, dengan jumlah klub yang dilaporkan meningkat hingga 3,5 kali lipat dalam beberapa tahun terakhir.

Dokter Ikhsanuddi Qothi, seorang praktisi kesehatan yang aktif berbagi edukasi di media sosial, mengapresiasi geliat olahraga ini. Ia menekankan bahwa olahraga, khususnya lari, bukan sekadar aktivitas rekreasional, melainkan telah bertransformasi menjadi kebutuhan esensial untuk meningkatkan kualitas hidup. "Kalau kita bicara olahraga, sebenarnya tidak bisa memisahkan antara tubuh dan pikiran. Keduanya saling berkorelasi. Saat pikiran sehat, tubuh juga cenderung lebih sehat. Sebaliknya, tubuh yang sehat akan membantu menjaga kesehatan mental," jelas dr. Ikhsanuddi saat peluncuran BrookFarm Almond Run 2026 di Jakarta pada Kamis (18/6).

Manfaat Lari Melampaui Kebugaran Fisik

Lari menawarkan kemudahan akses dan minimnya kebutuhan peralatan, menjadikannya pilihan olahraga yang praktis bagi banyak kalangan. Namun, kesederhanaannya tidak mengurangi kedalaman manfaat yang diberikannya. Secara fisik, lari berkontribusi signifikan dalam meningkatkan kesehatan kardiovaskular, memperkuat otot, membantu menjaga berat badan ideal, serta meningkatkan daya tahan tubuh secara keseluruhan. Aktivitas ini juga berperan krusial dalam melancarkan sirkulasi darah, memastikan setiap organ tubuh menerima suplai oksigen dan nutrisi yang memadai untuk berfungsi optimal.

Lebih jauh lagi, dampak positif lari merambah hingga ranah kesehatan mental. Saat berlari, tubuh memproduksi dan melepaskan hormon endorfin, yang dikenal sebagai "hormon kebahagiaan". Pelepasan endorfin ini mampu memberikan sensasi euforia, meredakan stres, dan secara signifikan memperbaiki suasana hati. Banyak pelari melaporkan perasaan lebih positif dan bersemangat setelah menyelesaikan sesi lari mereka.

Tidak hanya itu, berbagai penelitian ilmiah telah mengonfirmasi bahwa aktivitas fisik rutin seperti lari dapat menjadi benteng pertahanan terhadap gangguan kecemasan dan depresi. Lari juga terbukti meningkatkan kualitas tidur, sebuah komponen vital dalam menjaga kesehatan mental dan fisik. Dr. Ikhsanuddi menegaskan kembali pentingnya pandangan holistik terhadap olahraga. "Kita tidak bisa memisahkan kesehatan tubuh dan pikiran. Keduanya saling mendukung," ujarnya, menekankan sinergi antara kedua aspek kesehatan ini.

Meskipun tren lari kian diminati, tantangan terbesar yang dihadapi banyak individu adalah menjaga konsistensi. Menurut dr. Ikhsanuddi, kunci utama untuk mengatasi hal ini adalah dengan memperbaiki pola pikir atau mindset mengenai tujuan utama berolahraga. "Mindset-nya harus dibenarkan terlebih dahulu, yaitu olahraga karena ingin sehat," tegasnya. Ia mengingatkan bahwa esensi lari bukanlah tentang pencapaian jarak terjauh atau kecepatan tertinggi. "Lari itu bukan soal seberapa cepat atau seberapa jauh, tetapi seberapa sehat yang bisa kita dapatkan dari aktivitas tersebut," jelasnya.

Selain aspek mental, nutrisi memegang peranan penting dalam mendukung performa dan proses pemulihan pasca-olahraga. Asupan gizi yang seimbang dan memadai sangat diperlukan untuk memaksimalkan manfaat lari bagi tubuh.

Lari Sebagai Bagian Tak Terpisahkan dari Gaya Hidup Modern

Meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap lari juga memicu berbagai inisiatif untuk mendukung gaya hidup aktif. Salah satu contoh nyata adalah penyelenggaraan BrookFarm Almond Run 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 23 Agustus 2026 di Plaza Parkir Timur Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Acara ini bertujuan untuk lebih mempopulerkan lari sebagai bagian integral dari gaya hidup masyarakat Indonesia.

Dokter Maria Melisa, Director of Marketing & Trading PR Sukanda Djaya – Diamond Cold Storage, menyampaikan pandangannya bahwa lari telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar olahraga. "Lari bukan hanya olahraga, tetapi sudah menjadi gaya hidup," katanya. Ia menambahkan, "Karena itu kami ingin mendorong masyarakat Indonesia untuk semakin aktif bergerak melalui kombinasi aktivitas fisik dan nutrisi yang baik."

Ajang BrookFarm Almond Run 2026 akan membuka dua kategori, yaitu 5K dan 10K, yang dirancang untuk merangkul pelari dari berbagai tingkat keahlian, mulai dari pemula hingga yang berpengalaman. Tujuan utama dari penyelenggaraan acara ini bukan hanya untuk mengajak masyarakat berlari, tetapi lebih kepada memotivasi mereka untuk memulai perjalanan menuju gaya hidup sehat melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. "Yang terpenting adalah konsisten. Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus," tutup dr. Maria.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All