Dua pembalap kebanggaan Indonesia, Veda Ega Pratama dan Mario Aji, memanfaatkan periode jeda kompetisi balap musim 2026 untuk kembali ke tanah air. Kepulangan mereka tidak hanya untuk beristirahat, tetapi juga untuk menjalani kegiatan yang berbeda dari rutinitas balap, termasuk mencari kain batik khas Indonesia di Jakarta.
Kesempatan ini menjadi momen berharga bagi Veda Ega dan Mario Aji untuk kembali terhubung dengan akar budaya mereka. Di tengah kesibukan jadwal balap yang padat, kunjungan ke Jakarta memberikan kesempatan untuk relaksasi sekaligus eksplorasi. Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah kegiatan berburu batik.
Veda Ega, yang dikenal sebagai salah satu talenta muda berbakat di dunia balap, mengungkapkan kegembiraannya dapat kembali ke Indonesia. “Senang sekali bisa pulang ke rumah. Jeda ini benar-benar saya manfaatkan untuk istirahat dan melakukan hal-hal yang saya sukai di luar lintasan,” ujar Veda Ega. Ia menambahkan bahwa mencari batik adalah salah satu aktivitas yang ia nantikan.
Senada dengan Veda Ega, Mario Aji juga menyambut baik waktu luang ini. Sebagai pembalap yang sering berkompetisi di kancah internasional, kepulangannya ke Indonesia selalu dinanti. “Ini kesempatan bagus untuk recharge energi dan juga menikmati suasana rumah. Mencari batik di Jakarta jadi salah satu pilihan kegiatan kami,” tutur Mario Aji. Ia berharap dapat menemukan koleksi batik yang unik dan berkualitas.
Batik, sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia, menjadi daya tarik tersendiri bagi para pembalap ini. Keindahan motif dan keragaman corak batik diharapkan dapat menambah khazanah koleksi pribadi mereka, sekaligus menjadi pengingat akan identitas bangsa di tengah persaingan global.
Meskipun detail mengenai tempat spesifik mereka berburu batik tidak disebutkan, kegiatan ini menunjukkan bahwa Veda Ega dan Mario Aji tidak hanya fokus pada performa di lintasan balap, tetapi juga memiliki apresiasi yang tinggi terhadap budaya lokal. Momen jeda kompetisi ini menjadi kombinasi sempurna antara istirahat, pemulihan, dan pengayaan pengalaman budaya.
