Era Pinjaman Murah Sirna, Suku Bunga Bank Sentral Terkunci Tinggi Akibat Konflik Global

Rini Widiyarti

JAKARTA – Gejolak di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Iran, meskipun mulai mereda dengan gencatan senjata, telah menyisakan dampak ekonomi mendalam bagi masyarakat global. Tren suku bunga tinggi diprediksi akan bertahan lebih lama dari perkiraan sebelumnya.

Laporan terbaru Bloomberg Economics (BE) mengindikasikan bahwa suku bunga bank sentral global kemungkinan besar akan bertahan di level yang lebih tinggi hingga tahun 2028. Ini menandakan berakhirnya era pinjaman dengan bunga rendah, dan masyarakat perlu bersiap menghadapi biaya hidup serta cicilan utang yang semakin memberatkan.

Dampak konflik di Selat Hormuz, yang sempat mengganggu pasokan energi, telah memicu gelombang inflasi yang merembet ke berbagai sektor. Bank-bank sentral dunia, yang masih waspada terhadap lonjakan inflasi pasca-pandemi, kini mengambil sikap yang lebih agresif.

Proyeksi suku bunga global dan negara-negara maju diperkirakan akan tertahan 0,5% atau 50 basis poin lebih tinggi dari estimasi sebelum konflik memanas. Jamie Rush, Direktur Ekonomi Global di Bloomberg Economics, menyatakan bank sentral sangat serius memberantas inflasi. "Keikhlasan mereka untuk melunasi retorika agresif tersebut sangat terbatas," ujarnya.

Kondisi ini menjadi kabar buruk bagi konsumen dan pelaku usaha. Harapan untuk penurunan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR), kredit kendaraan, atau modal usaha dalam waktu dekat harus ditunda.

Perubahan kebijakan ini turut mengubah peta suku bunga bank sentral utama dunia. Di Amerika Serikat, Federal Reserve di bawah kepemimpinan Ketua Fed baru, Kevin Warsh, diproyeksikan mempertahankan suku bunga acuan di 3,75% hingga akhir 2026, bahkan diprediksi turun tipis ke 3,5% pada 2027. Hal ini membatalkan rencana pemangkasan suku bunga.

Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September menjadi 2,5%, sebelum sedikit melonggar tahun depan. Sementara Bank of England (BOE) memilih sikap wait-and-see, dengan suku bunga acuan diprediksi stagnan di 3,75% sepanjang 2026.

Di Jepang, pelemahan yen ke level terendah sejak 1986 mendorong Gubernur BOJ, Kazuo Ueda, untuk menaikkan suku bunga ke 1,25% pada Desember 2026 demi menstabilkan mata uang. Bank Sentral China (People’s Bank of China) diperkirakan menurunkan suku bunga reverse repo 7-hari dari 1,4% menjadi 1,3% di akhir 2026, dan 1,2% pada 2027.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All