Sebuah terobosan hijau dilakukan di Australia. Bandara Brisbane kini mulai menggunakan minyak goreng bekas atau jelantah sebagai bahan bakar pesawat. Langkah ini menjadikan Bandara Brisbane sebagai pionir di Benua Kanguru dalam pemanfaatan sumber energi terbarukan untuk penerbangan.
Bahan bakar inovatif ini diproduksi oleh Viva Energy melalui fasilitasnya di Terminal Pinkenba. Minyak jelantah yang telah diolah dicampurkan dengan bahan bakar jet konvensional. Proses penyimpanan, pencampuran, hingga sertifikasi bahan bakar ini dirancang agar berjalan mulus. Tujuannya agar pilot dan penumpang tidak merasakan perbedaan signifikan dalam operasional bandara.
Proyek ini melibatkan peningkatan kapasitas tangki penyimpanan bahan bakar menjadi 3,3 juta liter. Pembangunan sistem sertifikasi dan akuntansi juga dilakukan. Hal ini penting untuk melacak dan menghitung manfaat lingkungan yang dihasilkan dari penggunaan bahan bakar ramah lingkungan ini.
CEO Viva Energy, Scott Wyatt, mengungkapkan bahwa gejolak harga minyak dunia baru-baru ini menjadi pendorong utama Australia mengambil langkah ini. Australia, sebagai salah satu negara yang rentan terhadap fluktuasi harga minyak global, merasakan dampak signifikan. "Pada awalnya kami menghadapi banyak tantangan dalam memastikan pasokan," ujar Wyatt pada Senin, 6 Juli.
Wyatt menekankan pentingnya transisi menuju bahan bakar rendah karbon. Meskipun Australia berhasil melewati krisis pasokan dengan baik, momen tersebut menggarisbawahi urgensi peralihan energi. "Transisi ini merupakan perjalanan penting bagi kami, tetapi akan memakan waktu lebih lama dari yang kami inginkan," jelasnya.
Viva Energy meyakini bahan bakar terbarukan adalah bagian dari solusi. Pembangunan tangki di Pinkenba menjadi langkah awal yang penting dalam perjalanan tersebut. Program yang lebih luas juga sedang berjalan. Ini mencakup fasilitas impor bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Victoria dan proyek kilang di Geelong. Proyek-proyek ini bertujuan memproses bahan baku biogenik sebagai pengganti sebagian minyak mentah.
"Dengan pengaturan kebijakan yang tepat dari pemerintah, kita berpotensi mengganti sekitar sepertiga minyak mentah kita dengan bahan baku biogenik," ujar Wyatt. Ini merupakan langkah signifikan untuk mengurangi emisi bahan bakar hidrokarbon.
Kepala eksekutif Brisbane Airport Corporation, Gert-Jan de Graaff, menyambut baik inovasi ini. "Kemampuan untuk mendistribusikan bahan bakar penerbangan berkelanjutan langsung ke semua pesawat di Bandara Brisbane adalah sebuah terobosan besar," katanya. Langkah ini memberikan keuntungan bagi bandara, maskapai, dan penumpang.
Selain Bandara Brisbane, beberapa bandara lain di wilayah Queensland juga dilaporkan akan segera mengadopsi penggunaan bahan bakar jelantah ini. Inisiatif ini menunjukkan komitmen Australia dalam mewujudkan penerbangan yang lebih berkelanjutan.

Leave a Reply