Disparitas Penggunaan Inhaler Asma: Studi Ungkap Kesenjangan Signifikan pada Kelompok Minoritas di AS

Rini Widiyarti

Washington D.C. – Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA menyoroti adanya kesenjangan dalam penggunaan inhaler, khususnya obat kortikosteroid inhalasi (ICS), agonis beta kerja panjang (LABA), dan antagonis muskarinik kerja panjang (LAMA), pada orang dewasa Amerika Serikat dengan asma. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase penggunaan jenis inhaler penting ini secara signifikan lebih rendah pada kelompok etnis dan ras minoritas dibandingkan dengan orang kulit putih.

Penelitian yang menganalisis data dari tahun 2014 hingga 2023 ini melibatkan lebih dari 10.000 orang dewasa penderita asma. Para peneliti menemukan bahwa hanya sebagian kecil dari populasi yang menggunakan terapi inhaler yang sesuai, bahkan kurang dari sepertiga pasien.

"Kami menemukan perbedaan ras dan etnis dalam penggunaan ICS, yang sebagian besar berkurang setelah penyesuaian penuh," ujar Dr. Utibe R. Essien, asisten profesor kedokteran di David Geffen School of Medicine di UCLA, yang memimpin penelitian ini. "Ini menunjukkan bahwa faktor sosiodemografi dan akses layanan kesehatan menjadi pendorong utama variasi pengobatan."

Secara rinci, persentase rata-rata penggunaan inhaler ICS tertinggi ditemukan pada orang kulit putih (38,9%), diikuti oleh orang Hispanik (34,7%), kulit hitam (33,6%), lainnya/multiras (33%), dan Asia (29,6%). Pola serupa terlihat pada penggunaan inhaler LABA, di mana orang kulit putih juga memimpin dengan 31,6%, diikuti oleh orang kulit hitam (27,3%), Hispanik (25,4%), lainnya/multiras (24,1%), dan Asia (21,4%).

Untuk inhaler LAMA, orang kulit putih kembali menunjukkan persentase penggunaan tertinggi (5,9%). Kelompok lainnya berada di bawahnya, termasuk orang kulit hitam (3,6%) dan Asia (3,1%).

Menariknya, pola berlawanan terlihat pada penggunaan inhaler agonis beta kerja pendek (SABA). Orang kulit hitam memiliki persentase penggunaan tertinggi (64,6%), sementara orang kulit putih terendah (59,2%). Namun, para peneliti menekankan bahwa ketergantungan pada SABA seringkali mengindikasikan asma yang tidak terkontrol dengan baik dan berpotensi kurang diobati.

Dr. Essien menambahkan bahwa faktor-faktor seperti pendapatan, pendidikan, status asuransi, dan akses ke perawatan spesialis, yang semuanya dipengaruhi oleh disparitas ras dan etnis, memperumit upaya untuk mencapai kesetaraan farmakologis.

Meskipun penyesuaian untuk karakteristik demografis, klinis, dan sosioekonomi menunjukkan peningkatan kemungkinan penggunaan ICS dan LABA pada kelompok kulit hitam dan Hispanik, orang Asia tetap menunjukkan kemungkinan penggunaan ICS dan LABA yang lebih rendah dibandingkan orang kulit putih. Selain itu, orang kulit hitam dan Hispanik menunjukkan kemungkinan penggunaan LAMA yang lebih rendah setelah semua faktor disesuaikan.

"Kami terkejut dengan kesenjangan ras yang diamati, dengan penggunaan inhaler yang lebih rendah pada pasien asma kulit hitam dan Hispanik," kata Dr. Essien. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya mengatasi akar penyebab kesenjangan akses dan perawatan kesehatan untuk memastikan semua pasien asma menerima pengobatan yang optimal.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All