Terobosan Baru: Tes Darah Tingkatkan Angka Skrining Kanker Paru di Layanan Primer

Rini Widiyarti

ORLANDO – Akses terhadap tes skrining kanker paru berbasis darah terbukti efektif meningkatkan angka pemeriksaan di praktik layanan primer. Temuan ini dipresentasikan dalam Konferensi Internasional American Thoracic Society.

Dr. James M. Davis, direktur medis Duke Center for Smoking Cessation, menyatakan, "Akses terhadap tes darah ini memang meningkatkan angka skrining kanker paru." Peningkatan ini dinilai signifikan secara klinis.

Studi intervensi acak terkonsentrasi bertajuk FIRSTLUNG mengamati 2.953 individu. Peserta memenuhi kriteria skrining CT dosis rendah. Mayoritas, 83,7%, belum pernah diskrining.

Saat ini, angka skrining kanker paru masih sangat rendah. "Sekitar 18,2% angka skrining kanker paru sangat menyedihkan," kata Dr. Davis. Angka ini jauh tertinggal dari kanker lain seperti payudara, serviks, dan kolorektal yang mencapai 65-70%.

Tes darah FirstLook Lung sebelumnya menunjukkan sensitivitas tinggi 80%. Nilai prediksi negatifnya mencapai 99,8%. Spesifisitas populasi skrining sedikit lebih rendah, yaitu 56%.

"Tes ini mengelompokkan pasien berdasarkan kemungkinan mereka terkena kanker," jelas Dr. Davis. Pasien dengan kemungkinan tinggi akan menjalani CT dosis rendah. Pasien dengan kemungkinan sangat rendah tidak perlu CT. Tes darah itu sendiri dianggap cukup sebagai skrining awal.

Bagi klinisi, nilai prediksi negatif sangat penting. "Jika hasil tes negatif, saya 99,8% yakin pasien akan baik-baik saja," tambahnya.

Sebanyak 13 klinik dalam kelompok intervensi memiliki akses tes darah FirstLook Lung. Sementara itu, 15 klinik lainnya menjadi kelompok kontrol dengan akses CT dosis rendah.

Peserta studi adalah mereka yang memenuhi panduan skrining Task Force Pencegahan Amerika Serikat namun belum menjalaninya. "Kami fokus pada pasien yang seharusnya diskrining namun belum melakukannya," ujar Dr. Davis.

Karakteristik demografis kedua kelompok peserta relatif sebanding. Rata-rata usia sekitar 64 tahun. Riwayat merokok, status merokok, dan komorbiditas seperti PPOK dan penyakit kardiovaskular juga serupa.

Hasilnya, proporsi pasien yang menerima skrining kanker paru (CT dosis rendah atau tes darah) secara signifikan lebih tinggi di kelompok intervensi. Angka ini mencapai 20,9% dibandingkan 8,4% pada kelompok kontrol setelah 11 bulan.

Peningkatan juga terlihat pada penerima CT dosis rendah. Proporsi di kelompok intervensi adalah 13,4% versus 8,4% pada kelompok kontrol. "Setiap peningkatan pada populasi ini adalah kemenangan besar dalam menyelamatkan nyawa," tegas Dr. Davis.

Pemodelan menunjukkan potensi dampak kesehatan masyarakat yang signifikan. Akses tes darah dan CT dosis rendah menghasilkan deteksi kanker stadium satu yang lebih banyak. Hal ini diikuti penurunan deteksi kanker stadium empat.

"Pemodelan menunjukkan selama lima tahun, kami menyelamatkan sekitar 3.000 nyawa dari kematian akibat kanker paru," simpul Dr. Davis.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All