Kota Meksiko – Timnas Inggris mencetak sejarah gemilang di Piala Dunia 2026. Dalam pertandingan dramatis melawan Meksiko di Stadion Azteca, mereka berhasil bangkit dari ketertinggalan dan mengatasi berbagai rintangan. Kemenangan ini seolah mematahkan kutukan sejarah Inggris yang kerap kesulitan di kondisi sulit pada ajang sepak bola terbesar dunia.
Sebelumnya, publik meragukan kemampuan Inggris. Sejarah mencatat kegagalan mereka di Meksiko City 1986, Saint-Étienne 1998, dan Gelsenkirchen 2006. Namun, di Meksiko City 2026, The Three Lions menunjukkan mentalitas baja.
Pertandingan sempat tertunda satu jam akibat badai. Keterbatasan fisik akibat ketinggian kota juga menjadi sorotan media. Jurnalis bahkan melakukan perbandingan lari 5 kilometer. Namun, tim asuhan Thomas Tuchel membuktikan bahwa attitude lebih penting dari altitude.
Meksiko yang bertindak sebagai tuan rumah bersama Piala Dunia selalu sulit dikalahkan di Azteca. Mereka juga datang dengan empat kemenangan beruntun tanpa kebobolan. Namun, Inggris tak gentar.
Meski harus bermain dengan sepuluh orang setelah kartu merah Jarell Quansah dan penalti yang berbau kontroversi terhadap Harry Kane, Inggris menunjukkan semangat juang luar biasa. Keputusan taktis Tuchel untuk mengubah formasi menjadi 5-3-1 terbukti jitu.
Pahlawan utama dalam laga ini adalah Jude Bellingham. Pemain muda berusia 23 tahun itu mencetak dua gol di babak pertama. Ia kemudian bertransformasi menjadi tembok pertahanan kokoh.
Anthony Gordon juga tampil impresif, membuktikan kualitasnya di panggung dunia. Bek Dan Burn juga mendapat pujian atas kerja kerasnya menahan gempuran lawan. Keberaniannya menghalau tendangan salto Raul Jimenez patut diacungi jempol.
Bellingham, yang berasal dari Stourbridge, menjadi inspirasi. Ia mewujudkan mimpi para pendukung Inggris. Pesannya kepada fans di rumah untuk "mencoba lagi" dan "membolos kerja" menjadi viral.
Kemenangan ini bukan sekadar hasil pertandingan. Ini adalah pembuktian bahwa Inggris mampu bangkit di saat tertekan. Kartu merah yang diterima Quansah mengingatkan pada sejarah serupa Wayne Rooney (2006) dan David Beckham (1998), yang berujung pada kegagalan. Namun kali ini, Inggris membalikkan prediksi.
Para penggemar Inggris diimbau untuk menikmati kemenangan epik ini. Kemenangan ini terasa istimewa, 40 tahun setelah kekalahan melawan Argentina di Azteca yang ikonik dengan "Tangan Tuhan" Diego Maradona.
Di sisi lain, ada pula drama terkait sanksi Folarin Balogun. Federasi Sepak Bola Belgia melayangkan protes keras terhadap FIFA. Rudi Garcia, pelatih Belgia, menyatakan kekecewaannya. Donald Trump bahkan ikut campur tangan. UEFA pun angkat bicara mengenai keputusan tersebut.
Pertandingan lain juga menarik perhatian. Portugal berhasil mengalahkan Spanyol, sementara Amerika Serikat lolos dramatis melawan Belgia.
Kisah perjuangan Inggris di Meksiko City ini akan menjadi legenda. Semangat dan determinasi mereka patut dirayakan. Ini adalah bukti bahwa sejarah bisa diubah dengan mentalitas dan kerja keras.











